Mata Air itu Jernih dan Bersih > Kultur itu Kearifan dan Kebijaksanaan > Spiritual itu Damai dan Hening >


Latest Posts

Tampilkan postingan dengan label C.Demi Masa & Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label C.Demi Masa & Hikmah. Tampilkan semua postingan

Cerpen : Gus Jakfar

Tidak ada komentar:

Oleh A. Mustofa Bisri

Di antara putera-putera Kiai Saleh, pengasuh pesantren "Sabilul Muttaqin" dan sesepuh di daerah kami, Gus Jakfar-lah yang paling menarik perhatian masyarakat. Mungkin Gus Jakfar tidak sealim dan sepandai saudara-saudaranya, tapi dia mempunyai keistimewaan yang membuat namanya tenar hingga ke luar daerah, malah konon beberapa pejabat tinggi dari pusat memerlukan sowan khusus ke rumahnya setelah mengunjungi Kiai Saleh. Kata Kang Solikin yang dekat dengan keluarga ndalem, bahkan Kiai Saleh sendiri segan dengan anaknya yang satu itu.

"Kata Kiai, Gus Jakfar itu lebih tua dari beliau sendiri," cerita Kang Solikin suatu hari kepada kawan-kawannya yang sedang membicarakan putera bungsu Kiai Saleh itu. "Saya sendiri tidak paham apa maksudnya."

"Tapi, Gus Jakfar memang luar biasa," kata Mas Bambang, pegawai Pemda yang sering mengikuti pengajian subuh Kiai Saleh. "Matanya itu lho. Sekilas saja mereka melihat kening orang, kok langsung bisa melihat rahasianya yang tersembunyi. Kalian ingat, Sumini yang anak penjual rujak di terminal lama yang dijuluki perawan tua itu, sebelum dilamar orang sabrang kan ketemu Gus Jakfar. Waktu itu Gus Jakfar bilang, 'Sum, kulihat keningmu kok bersinar, sudah ada yang ngelamar ya?' Tak lama kemudian orang sabrang itu datang melamarnya."

"Kang Kandar kan juga begitu," timpal Mas Guru Slamet. "Kalian kan mendengar sendiri ketika Gus Jakfar bilang kepada tukang kebun SD IV itu, 'Kang, saya lihat hidung sampeyan kok sudah bengkok, sudah capek menghirup nafas ya?' Lho, ternyata besoknya Kang Kandar meninggal."

"Ya. Waktu itu saya pikir Gus Jakfar hanya berkelakar," sahut Ustadz Kamil, "Nggak tahunya beliau sedang membaca tanda pada diri Kang Kandar."

"Saya malah mengalami sendiri," kata Lik Salamun, pemborong yang dari tadi sudah kepingin ikut bicara.

"Waktu itu, tak ada hujan tak ada angin, Gus Jakfar bilang kepada saya, 'Wah, saku sampeyan kok mondol-mondol; dapat proyek besar ya?' Padahal saat itu saku saya justru sedang kemps. Dan percaya atau tidak, esok harinya saya memenangkan tender yang diselenggarakan Pemda tingkat propinsi."

"Apa yang begitu itu disebut ilmu kasyaf?" tanya Pak Carik yang sejak tadi hanya asyik mendengarkan.

"Mungkin saja," jawab Ustadz Kamil. "Makanya saya justru takut ketemu Gus Jakfar. Takut dibaca tanda-tanda buruk saya, lalu pikiran saya terganggu."

***

Maka, ketika kemudian sikap Gus Jakfar berubah, masyarakat pun geger; terutama para santri kalong, orang-orang kampung yang ikut mengaji tapi tidak tinggal di pesantren seperti Kang Solikin yang selama ini merasa dekat dengan beliau. Mula-mula Gus Jakfar menghilang berminggu-minggu, kemudian ketika kembali tahu-tahu sikapnya berubah menjadi manusia biasa. Dia sama sekali berhenti dan tak mau lagi membaca tanda-tanda. Tak mau lagi memberikan isyarat-isyarat yang berbau ramalan. Ringkas kata, dia benar-benar kehilangan keistimewaannya.

"Jangan-jangan ilmu beliau hilang pada saat beliau menghilang itu," komentar Mas Guru Slamet penuh penyesalan. "Wah, sayang sekali! Apa gerangan yang terjadi pada beliau?"

"Ke mana beliau pergi saat menghilang pun, kita tidak tahu," kata Lik Salamun. "Kalau saja kita tahu ke mana beliau pergi, mungkin kita akan mengetahui apa yang terjadi pada beliau dan mengapa beliau kemudian berubah."

"Tapi, bagaimanapun ini ada hikmahnya," ujar Ustadz Kamil. "Paling tidak, kini kita bisa setiap saat menemui Gus Jakfar tanpa merasa deg-degan dan was-was; bisa mengikuti pengajiannya dengan niat tulus mencari ilmu. Maka, jangan kita ingin mengetahui apa yang terjadi dengan gus kita ini hingga sikapnya berubah atau ilmunya hilang, sebaiknya kita langsung saja menemui beliau."

Begitulah, sesuai usul Ustadz Kamil, pada malam Jum'at sehabis wiridan salat Isya, saat mana Gus Jakfar prei, tidak mengajar; rombongan santri kalong sengaja mendatangi rumahnya. Kali ini hampir semua anggota rombongan merasakan keakraban Gus Jakfar, jauh melebihi yang sudah-sudah. Mungkin karena kini tidak ada lagi sekat berupa rasa segan, was-was dan takut.

Setelah ngobrol ke sana kemari, akhirnya Ustadz Kamil berterus terang mengungkapkan maksud utama kedatangan rombongan: "Gus, di samping silaturahmi seperti biasa, malam ini kami datang juga dengan sedikit keperluan khusus. Singkatnya, kami penasaran dan sangat ingin tahu latar belakang perubahan sikap sampeyan."

"Perubahan apa?" tanya Gus Jakfar sambil tersenyum penuh arti. "Sikap yang mana? Kalian ini ada-ada saja. Saya kok merasa tidak berubah."

"Dulu sampeyan kan biasa dan suka membaca tanda-tanda orang," tukas Mas Guru Slamet, "kok sekarang tiba-tiba mak pet, sampeyan tak mau lagi membaca, bahkan diminta pun tak mau."

"O, itu," kata Gus Jakfar seperti benar-benar baru tahu. Tapi dia tidak segera meneruskan bicaranya. Diam agak lama. Baru setelah menyeruput kopi di depannya, dia melanjutkan, "Ceritanya panjang." Dia berhenti lagi, membuat kami tidak sabar, tapi kami diam saja.

"Kalian ingat, saya lama menghilang?" akhirnya Gus Jakfar bertanya, membuat kami yakin bahwa dia benar-benar siap untuk bercerita. Maka serempak kami mengangguk. "Suatu malam saya bermimpi ketemu ayah dan saya disuruh mencari seorang wali sepuh yang tinggal di sebuah desa kecil di lereng gunung yang jaraknya dari sini sekitar 200 km kea rah selatan. Namanya Kiai Tawakkal. Kata ayah dalam mimpi itu, hanya kiai-kiai tertentu yang tahu tentang kiai yang usianya sudah lebih 100 tahun ini. Santri-santri yang belajar kepada beliau pun rata-rata sudah disebut kiai di daerah masing-masing."

"Terus terang, sejak bermimpi itu, saya tidak bisa menahan keinginan saya untuk berkenalan dan kalau bisa berguru kepada Wali Tawakkal itu. Maka dengan diam-diam dan tanpa pamit siapa-siapa, saya pun pergi ke tempat yang ditunjukkan ayah dalam mimpi dengan niat bilbarakah dan menimba ilmu beliau. Ternyata, ketika sampai di sana, hampir semua orang yang saya jumpai mengaku tidak mengenal nama Kiai Tawakkal. Baru setelah seharian melacak ke sana kemari, ada seorang tua yang memberi petunjuk."

'Cobalah nakmas ikuti jalan setapak di sana itu' katanya. 'Nanti nakmas akan berjumpa dengan sebuah sungai kecil; terus saja nakmas menyeberang. Begitu sampai seberang, nakmas akan melihat gubuk-gubuk kecil dari bambu. Nah, kemungkinan besar orang yang nakmas cari akan nakmas jumpai di sana. Di gubuk yang terletak di tengah-tengah itulah tinggal seorang tua seperti yang nakmas gambarkan. Orang sini memanggilnya Mbah Jogo. Barangkali itulah yang nakmas sebut Kiai siapa tadi?'

'Kiai Tawakkal.'

'Ya, Kiai Tawakkal. Saya yakin itulah orangnya, Mbah Jogo.'

"Saya pun mengikuti petunjuk orang tua itu, menyeberang sungai dan menemukan sekelompok rumah gubuk dari bambu."

"Dan betul, di gubuk bambu yang terletak di tengah-tengah, saya menemukan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo sedang dikelilingi santri-santrinya yang rata-rata sudah tua. Saya diterima dengan penuh keramahan, seolah-olah saya sudah merupakan bagian dari mereka. Dan kalian tahu? Ternyata penampilan Kiai Tawakkal sama sekali tidak mencerminkan sosoknya sebagai orang tua. Tubuhnya tegap dan wajahnya berseri-seri. Kedua matanya indah memancarkan kearifan. Bicaranya jelas dan teratur. Hampir semua kalimat yang meluncur dari mulut beliau bermuatan kata-kata hikmah."

Tiba-tiba Gus Jakfar berhenti, menarik nafas panjang, baru kemudian melanjutkan, "Hanya ada satu hal yang membuat saya terkejut dan tgerganggu. Saya melihat di kening beliau yang lapang ada tanda yang jelas sekali, seolah-olah saya membaca tulisan dengan huruf yang cukup besar dan berbunyi 'Ahli Neraka'. Astaghfirullah! Belum pernah selama ini saya melihat tanda yang begitu gambling. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya lihat. Pasti saya keliru. Masak seorang yang dikenal wali, berilmu tinggi, dan disegani banyak kiai yang lain, disurati sebagai ahli neraka. Tak mungkin. Saya mencoba meyakin-yakinkan diri saya bahwa itu hanyalah ilusi, tapi tak bisa. Tanda itu terus melekat di kening beliau. Bahkan belakangan saya melihat tanda itu semakin jelas ketika beliau habis berwudhu. Gila!"

"Akhirnya niat saya untuk menimba ilmu kepada beliau, meskipun secara lisan memang saya sampaikan demikian, dalam hati sudah berubah menjadi keinginan untuk menyelidiki dan memecahkan keganjialan ini. Beberapa hari saya amati perilaku Kiai Tawakkal, saya tidak melihat sama sekali hal-hal mencurigakan. Kegiatan rutinnya sehari-hari tidak begitu berbeda dengan kebanyakan kiai yang lain: mengimami salat jamaah; melakukan salat-salat sunnat seperti dhuha, tahajjud, witir,dsb.; mengajar kitab-kitab (umumnya kitab-kitab besar); mujahadah; dzikir malam; menemui tamu; dan semacamnya. Kalaupun beliau keluar, biasanya untuk memenuhi undangan hajatan atau- dan ini sangat jarang sekali- mengisi pengajian umum. Memang ada kalanya beliau keluar pada malam-malam tertentu; tapi menurut santri-santri yang lama, itu pun merupakan kegiatan rutin yang sudah dijalani Kiai Tawakkal sejak muda. Semacam lelana brata, kata mereka."

"Baru setelah beberapa minggu tinggal di 'pesantren bambu', saya mendapat kesempatan atau tepatnya keberanian untuk mengikuti Kiai Tawakkal keluar. Saya pikir, inilah kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas tanda tanya yang selama ini mengganggu saya."

"Begitulah, pada suatu malam purnama, saya melihat Kiai keluar dengan berpakaian rapi. Melihat waktunya yang sudah larut, tidak mungkin beliau pergi untuk mendatangi undangan hajatan atau lainnya. Dengan hati-hati saya membuntutinya dari belakang; tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. Dari jalan setapak hingga ke jalan desa, Kiai terus berjalan dengan langkah yang tetap tegap. Akan ke mana beliau gerangan? Apa ini yang disebut semacam lelana brata? Jalanan semakin sepi; saya pun semakin berhati-hati mengikutinya, khawatir tiba-tiba Kiai menoleh ke belakang."

"Setelah melewati kuburan dan kebun sengon, beliau berbelok. Ketika kemudian saya ikut belok, saya kaget, ternyata sosoknya tak kelihatan lagi. Yang terlihat justru sebuah warung yang penuh pengunjung. Terdengar gelak tawa ramai sekali. Dengan bengong saya mendekati warung terpencil dengan penerangan petromak itu. Dua orang wanita- yang satu masih muda dan yang satunya lagi agak lebih tua- dengan dandanan yang menor sibuk melayani pelanggan sambil menebar tawa genit ke sana kemari. Tidak mungkin Kiai mampir ke warung ini, pikir saya. Ke warung biasa saja tidak pantas, apalagi warung yang suasananya saja mengesankan kemesuman ini.

'Mas Jakfar!' tiba-tiba saya dikagetkan oleh suara yang tidak asing di telinga saya, memanggil-manggil nama saya. Masyaallah, saya hampir-hampir tidak mempercayai pendengaran dan penglihatan saya. Memang betul, mata saya melihat Kiai Tawakkal melambaikan tangan dari dalam warung. Ah. Dengan kikuk dan pikiran tak karuan, saya pun terpaksa masuk dan menghampiri kiai yang saya yang duduk santai di pojok. Warung penuh dengan asap rokok. Kedua wanita menor menyambut saya dengan senyum penuh arti. Kiai Tawakkal menyuruh orang disampingnya untuk bergeser, 'Kasi kawan saya ini tempat sedikit!' Lalu, kepada orang-orang yang ada di warung, Kiai memperkenalkan saya. Katanya, 'Ini kawan saya, dia baru datang dari daerah yang cukup jauh. Cari pengalaman katanya'. Mereka yang duduknya dekat serta merta mengulurkan tangan, menjabat tangan saya dengan ramah; sementara yang jauh melambaikan tangan".

"Saya masih belum sepenuhnya menguasai diri, masih seperti dalam mimpi, ketika tiba-tiba saya dengar Kiai menawari, 'Minum kopi ya?!' Saya mengangguk asal mengangguk. 'Kopi satu lagi, Yu!' kata Kiai kepada wanita warung sambil mendorong piring jajan ke dekat saya. 'Silakan! Ini namanya rondo royal, tape goreng kebanggan warung ini! Lagi-lagi saya hanya menganggukkan kepala asal mengangguk."

"Kiai Tawakkal kemudian asyik kembali dengan 'kawan-kawan'-nya dan membiarkan saya bengong sendiri. Saya masih tak habis pikir, bagaimana mungkin Kiai Tawakkal yang terkenal waliyullah dan dihormati para kiai lain bisa berada di sini. Akrab dengan orang-orang beginian; bercanda dengan wanita warung. Ah, inikah yang disebut lelana brata? Ataukah ini merupakan dunia lain beliau yang sengaja disembunyikan dari umatnya? Tiba-tiba saya seperti mendapat jawaban dari tanda tanya yang selama ini mengganggu saya dan karenanya saya bersusah payah mengikutinya malam ini. O, pantas di keningnya kulihat tanda itu. Tiba-tiba sikap dan pandangan saya terhadap beliau berubah."

'Mas, sudah larut malam,'tiba-tiba suara Kiai Tawakkal membuyarkan lamunan saya. 'Kita pulang, yuk!' Dan tanpa menunggu jawaban saya, Kiai membayari minuman dan makanan kami, berdiri, melambai kepada semua, kemudian keluar. Seperti kerbau dicocok hidung, saya pun mengikutinya. Ternyata setelah melewati kebon sengon, Kiai Tawakkal tidak menyusuri jalan-jalan yang tadi kami lalui. 'Biar cepat, kita mengambil jalan pintas saja!' katanya."

"Kami melewati pematang, lalu menerobos hutan, dan akhirnya sampai di sebuah sungai. Dan, sekali lagi saya menyaksikan kejadian yang menggoncangkan. Kiai Tawakkal berjalan di atas permukaan air sungai, seolah-olah di atas jalan biasa saja. Sampai di seberang, beliau menoleh ke arah saya yang masih berdiri mematung. Beliau melambai. 'Ayo!' teriaknya. Untung saya bisa berenang; saya pun kemudian berenang menyeberangi sungai yang cukup lebar. Sampai di seberang, ternyata Kiai Tawakkal sudah duduk-duduk di bawah pohon randu alas, menunggu. 'Kita istirahat sebentar,' katanya tanpa menengok saya yang sibuk berpakaian. 'Kita masih punya waktu, insya Allah sebelum subuh kita sudah sampai pondok.'

Setelah saya ikut duduk di sampingnya, tiba-tiba dengan suara berwibawa, Kiai berkata mengejutkan, 'Bagaimana? Kau sudah menemukan apa yang kaucari? Apakah kau sudah menemukan pembenar dari tanda yang kaubaca di kening saya? Mengapa kau seperti masih terkejut? Apakah kau yang mahir melihat tanda-tanda menjadi ragu terhadap kemahiranmu sendiri?' Dingin air sungai rasanya semakin menusuk mendengar rentetan pertanyaan beliau yang menelanjangi itu. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Beliau yang kemudian terus berbicara.

'Anak muda, kau tidak perlu mencemaskan saya hanya karena kau melihat tanda "Ahli Neraka" di kening saya. Kau pun tidak perlu bersusah-payah mencari bukti yang menunjukkan bahwa aku memang pantas masuk neraka. Karena, pertama, apa yang kau lihat belum tentu merupakan hasil dari pandangan kalbumu yang bening. Kedua, kau kan tahu, sebagaimana neraka dan sorga, aku adalah milik Allah. Maka terserah kehendak-Nya, apakah Ia memasukkan diriku ke sorga atau neraka. Untuk memasukkan hamba-Nya ke sorga atau neraka, sebenarnyalah Ia tidak memerlukan alasan. Sebagai kiai, apakah kau berani menjamin amalmu pasti mengantarkanmu ke sorga kelak? Atau kau berani mengatakan bahwa orang-orang di warung yang tadi kau pandang sebelah mata itu pasti masuk neraka? Kita berbuat baik karena kita ingin dipandang baik oleh-Nya, kita ingin berdekat-dekat dengan-Nya, tapi kita tidak berhak menuntut balasan kebaikan kita. Mengapa? Karena kebaikan kita pun berasal dari-Nya. Bukankah begitu?'

Aku hanya bisa menunduk. Sementara Kiai Tawakkal terus berbicara sambil menepuk-nepuk punggung saya. 'Kau harus lebih berhati-hati bila mendapat cobaan Allah berupa anugerah. Cobaan yang berupa anugerah tidak kalah gawatnya dibanding cobaan yang berupa penderitaan. Seperti mereka yang di warung tadi; kebanyakan mereka orang susah. Orang susah sulit kau bayangkan bersikap takabbur; ujub, atau sikap-sikap lain yang cenderung membesarkan diri sendiri. Berbeda dengan mereka yang mempunyai kemampuan dan kelebihan: godaan untuk takabbur dan sebagainya itu datang setiap saat. Apalagi bila kemampuan dan kelebihan itu diakui oleh banyak pihak'

Malam itu saya benar-benar merasa mendapatkan pemahaman dan pandangan baru dari apa yang selama ini sudah saya ketahui.

'Ayo kita pulang!' tiba-tiba Kiai bangkit. 'Sebentar lagi subuh. Setelah sembahyang subuh nanti, kau boleh pulang.' Saya tidak merasa diusir; nyatanya memang saya sudah mendapat banyak dari kiai luar biasa ini."

"Ketika saya ikut bangkit, saya celingukan. Kiai Tawakkal sudah tak tampak lagi. Dengan bingung saya terus berjalan. Kudengar azan subuh berkumandang dari sebuah surau, tapi bukan surau bambu. Seperti orang linglung, saya datangi surau itu dengan harapan bisa ketemu dan berjamaah salat subuh dengan Kiai Tawakkal. Tapi, jangankan Kiai Tawakkal, orang yang mirip beliau pun tak ada. Tak seorang pun dari mereka yang berada di surau itu yang saya kenal. Baru setelah sembahyang, seseorang menghampiri saya. 'Apakah sampeyan Jakfar?' tanyanya. Ketika saya mengiyakan, orang itu pun menyerahkan sebuah bungkusan yang ternyata berisi barang-barang milik saya sendiri. 'Ini titipan Mbah Jogo, katanya milik sampeyan.'

'Beliau di mana?' tanya saya buru-buru.

'Mana saya tahu?' jawabnya. 'Mbah Jogo datang dan pergi semaunya. Tak ada seorang pun yang tahu dari mana beliau datang dan ke mana beliau pergi.'

Begitulah ceritanya. Dan Kiai Tawakkal alias Mbah Jogo yang telah berhasil mengubah sikap saya itu tetap merupakan misteri."

Gus Jakfar sudah mengakhiri ceritanya, tapi kami yang dari tadi suntuk mendengarkan masih diam tercenung sampai Gus Jakfar kembali menawarkan suguhannya.


Rembang, Mei 2002

A. MUSTOFA BISRI adalah Wakil Rais Aam PBNU. Lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944. Kiai yang akrab disapa Gus Mus ini adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin. Dikenal sebagai penyair, pelukis, cerpenis dan kolumnis.

“Gus Jakfar” adalah cerpen terbaik harian Kompas tahun 2004.

Sumber :
http://www.nu.or.id/post/read/37366/gus-jakfar
Read More

Merekalah Orang-Orang Yang Bersabar...

Tidak ada komentar:


Anas bin Malik radhiallahu 'anhu berkata : "Anak laki-laki Abu Thalhah ari Ummu Salamah meninggal dunia. Maka istrinya berkata kepada keluarganya,
'Jangan kalian beritakan kepada Abu Thalhah tentang kematiannya, sampai aku sendiri yang mengabarkannya!'.
      Anas bin Malik berkata, 'Abu Thalhah datang dan dihidangkan kepadanya makan malam, maka ia pun makan dan minum'. Anas berkata, 'Sang istri kemudian berdandan indah bahkan lebih indah dari waktu-waktu yang sebelumnya. Setelah dia merasa bahwa Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu tentang suatu kaum yang meminjamkan sesuatu kepada sebuah keluarga, lalu mereka mengambil barang yang dipinjamkannya, apakah mereka berhak menolaknya?'
       Ia berkata, 'Tidak (berhak)!'
'Jika demikian, maka mintalah pahalanya kepada Allah tentang puteramu (yang telah diambilNya kembali)', kata sang istri.
       Suaminya menyergah, 'Engkau biarkan aku, sehingga aku tidak mengetahui apa-apa, lalu engkau beritakan tentang (kematian) anakku?'
       Setelah itu, ia berangkat mendatangi Rasulullah SAW lalu ia ceritakan apa yang telah terjadi. Maka Rasulullah bersabda, 'Semoga Allah memberkahi kalian berdua tadi malam'.
       Anas Berkata, 'Lalu istrinya mengandung dan melahirkan seorang anak. Kemudian Abu Thalhah berkata kepadaku, 'Bawalah dia kepada Nabi shallahu 'alaihi wa sallam'. Lalu aku bawakan untuknya beberapa buah kurma. Nabi saw lalu mengambil anak itu seraya berkata, 'Apakah dia membawa sesuatu?'
        Mereka berkata, "Ya, beberapa buah kurma."
        Nabi saw kemudian mengambilnya dan mengunyahnya, lalau diambilnya dari mulutnya, kemudian diletakkannya di mulut bayi itu dan beliau menggosok-gosokkannya pada langit-langit mulut bayi itu, dan beliau menamainya 'Abdullah'. (HR.Al-Bukhari, 9/587 dalam Al-Aqiqah, Muslim no.2144).
        Dalam riwayat Al-Bukahri, Sufyan bin Uyainah berkata :
'Seorang laki-laki dari sahabat Anshar berkata, Aku melihat mereka memiliki sembilan anak. Semuanya telah hafal Al-Qur'an, yakni dari anak-anak Abdullah, yang dilahirkan dari persetubuhan malam itu, yaitu malam wafatnya anak yang pertama, yaitu Abu Umair yang Nabi saw mencandainya seraya berkata.
        'Hai Abu Uamir, apa yang sedang dilakukan anak burung pipit?'.
         Dalam riwayat lain disebutkan : "Ia berkata, "Maka istrinya pun hamil mengandung anaknya, lalu anak itu ia beri nama Abdullah, lalu Rasulullah saw bersabda, 'Segala puji bagi Allah yang menjadikan dalam umatku orang yang memiliki kesabaran seperti kesabaran seorang wanita dari Bani Israil'.
         Kepada beliau ditanyakan, 'Bagaiamana beritanya wahai Rasulullah?' Beliau bersabda, 'Dalam Bani Israil terdapat wanita bersuami yang memiliki dua anak. Suaminya memerintahkannya menyediakan makanan untuk orang-orang yang ia undang.
         Para undangan berkumpul di rumahnya. Ketika itu kedua anaknya keluar untuk bermain, tiba-tiba mereka terjatuh ke dalam sumur dekat rumahnya. Sang istri tidak hendak menggangu suaminya bersama para tamunya, maka keduanya ia masukkan ke dalam rumah dan ditutupinya dengan pakaian. Ketika para undangan sudah pulang, sang suami masuk seraya bertanya,'diamana anak-anakku?'
          Istrinya menjawab, 'Di dalam rumah'. Ia lalu mengenakan minyak wangi dan menawarkan diri kepada suaminy sehingga mereka melakukan jima'.
         Sang suami kembali bertanya, 'Di mana anak-anakku?'
         'Didalam rumah', jawab istrinya. Lalu sang ayah memanggil kedua anaknnya. Tiba-tiba mereka keluar memenuhi panggilan. Sang istri terperanjat, 'Subhanallah, Mahasuci Allah, demi Allah keduanya telah meninggal dunia.'
Allah menghidupkannya kembali sebagai balasan dari kesabaran.

       Kalaulah Allah berkehendak semuanya mungkin terjadi. Allah Maha Mengetahui kesiapan hamba-hambaNya. Tetaplah berbaik sangka kepada Allah, bahwa apa yang Allah kehendaki pasti akan terjadi. Teruslah bermunajat dalam roja (harap) dan khouf (takut) kepada Allah.
       Seperti  tentang kisah Nabiyullah Zakaria dalam Kitabullah Al-Qur'an. Yang Allah uji dengan ketidakadaan buah hati hingga masa udzurnya, dan istrinya yang dinyatakan tidak bisa memiliki keturunan. Namun berkat kesabaran dan kegigihan beliau bermunajat kepada Allah dengan penuh harap dan takut, dan senantiasa menyegerakan perbuatan baik, Allah menganugrahi buah hati yang tiada dinyanan-nyana akan kehadirannya, Nabiyullah Yahya.

Maha Suci Engkau Yaa Rabb Dengan KebesaranMu Yang Maha Berkehendak

Semoga sama-sama dapat memetik hikmahnya

(Buku Teknik Sabar Kunci Sukses Karir Gemilang Hal.153, Penyusun Komarudin Ibnu Mikam)



Read More

Banyol Gusmus : Tetaplah Menjadi Manusia

Tidak ada komentar:

Gus, beberapa waktu yang lalu ketika Gus Mus ngisi seminar di Unnes saya minta tanda tangan dan pesan dari Gus Mus. Yang selalu saya ingat adalah pesan Gus Mus yang berbunyi "Tetaplah Menjadi Manusia". Beberapa waktu kemudian saya juga minta petunjuk kepada Gus Mus via SMS, ketika hati saya sedang kalut, Gus Mus menjawab "Tetaplah Menjadi Manusia". Selam ini saya hanya mengira-ira apa maksud dari ungkapan itu. Saya ingin penjelasan yang sedetail-detailnya dari Gus Mus makna filosofi apa yang ada dari ungkapan Gus Mus tentang "Tetaplah Manjadi Manusia". Apakah selama ini beberapa manusia sudah tidak seperti manusia? Matur Suwun Gus.

Penanya : Eko Wahyu Widodo Sutiyono (Wahyu) pada 24 April 2006 02:18:21

Jawab:

Ya kan? Ada orang yang tampaknya manusia, dibilang orang "buaya darat", ada yang dibilang "ular", "tikus", "monyet", dll.

Maka jangan sering-sering ke kebon binatang! Nanti ketularan penghuni-penghuninya.. He he...

Sumber : http://www.gusmus.net/gusmus/page.php?mod=interaksi&sub=2&id=144
Read More

4 Wanita Mulia Yang Juga Penghulu Segala Wanita Di Dunia

Tidak ada komentar:

Sesungguhnya Allah memuliakan kaum wanita, bahkan Allah menurunkan satu surat dengan nama An-Nisa yang artinya wanita, dan lagi ada sebuah hadits Nabi yang mengatakan surga ada ditelapak kaki Ibu, ini berarti surga ada di telapak kaki seorang wanita. Sungguh betapa istimewanya wanita.

Di dalam sejarah Islam ada wanita-wanita hebat yang menjadi panutan untuk kaum muslimah. Rasulullah SAW bersabda : “Ada empat wanita mulia yang juga penghulu segala wanita di dunia; mereka itu ialah Asiyah binti Muzahim istri Fira’un; Maryam binti Imran ibunda Isa; Khadijah binti Khuwailid, istri Rasulullah saw dan Fatimah binti Muhammad, putri kesayangan Baginda.” (HR. Bukhari)

1. Maryam Binti Imran (Ibunda Nabi Isa AS)

Maryam adalah simbol wanita dalam ibadah dan ketinggian darajat ketakwaannya kepada Allah serta mampu memelihara kesucian diri dan kehormatannya ketika mengabdikan dirinya kepada Allah.

Maryam binti Imran atau Siti Maryam merupakan anak tunggal dari keluarga Imran dan ibundanya bernama Hana. Maryam masih keponakan Nabi Zakariya dan merupakan ibunda dari Nabi Isa. Ayahanda Maryam (Imran) wafat ketika ia masih dalam kandungan dan setelah beliau dilahirkan ibundanya menyerahkan kepada pengurus Baitul Maqdis untuk hidup mengabdi sepenuhnya kepada Allah menajadi penjaga Baitul Maqdis, dan pamannya lah (Nabi Zakariya) yang mengasuh, mengurus segala kebutuhan Maryam.

Maryam adalah wanita suci yang tinggi derajat ketaqwaannya kepada Allah, ia mampu menjaga kesucian dan kehormatan dalam mengabdikan dirinya kepada Allah. Hari-harinya dihabiskan untuk berdzikir beribadah kepada Allah. Hingga sampai suatu ketika saat ia menginjak dewasa, ia mendapatkan amanah mengandung seorang putra.

Kemudian Allah meniupkan ruh ke dalam rahim Maryam melalui Jibril. Maka disitulah bermula keimanan dan ketaqwaan Maryam diuji dengan berbagai fitnah dan hujatan. Masyarakat memandangnya buruk, menuduhnya sebagai seorrang pezina, namun keimanannya kepada Allah tetap kuat dan teguh. Dia Maryam, wanita solehah yang suci dan namanya diabadikan oleh Allah di satu surat khusus di dalam Al-Quran.

“Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril berkata: Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia.” (QS. Ali-Imran: 42)

2. Asiyah Binti Muza (Istri Firaun)

Asyiah adalah simbol teladan bagi wanita beriman yang tetap mempertahankan keimanannya kepada Allah, meskipun suaminya menyiksanya dengan siksaan yang amat berat, asiyah tetap memegang teguh keimanannya pada Allah SWT.

Ia adalah wanita yang beriman kepada Allah, istri dari seorang raja kafir dzolim dan kejam yang mengaku Tuhan, Fira’un. Meskipun Asiyah hidup dalam kekafiran Fira’un, ia tetap istiqomah dan teguh beriman kepada Allah walau penyiksaan diterimanya dari sang suami. Begitu berat ujian yang dihadapinya, namun hal itu tidak membuat keimanannya turun.

Imannya tak goyah sedikitpun, ia tetap mempertahankan keimanannya itu meski penyiksaan demi penyiksaan dihadapinya. Bahkan keimanannya semakin kuat sampai ia wafat.

Dalam setiap penyiksaan yang dihadapinya, ia selalu berdoa kepada Allah untuk membangunkan sebuah rumah di surga. Dan Allah pun mengabulkan doanya sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Quran:
Allah membuat istri Fira’un perumpamaan bagi orang-orang beriman, ketika ia berkata:

“Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus dan selamatkanlah aku dari Fira’un dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dzalim.” 
(QS. At-Tahrim: 11)

3. Khadijah binti Khuwailid (Istri Nabi Muhammad SAW)

Khadijah adalah simbol kepada isteri yang setia tanpa mengenal lelah mendampingi suaminya menegakkan panji-panji kebenaran Islam, berkorban jiwa raga dan segala harta bendanya serta rela menanggung berbagai risiko dan cobaan dalam menyebarkan risalah Islam yang diamanahkan pada bahu Rasulullah. Subhanallah, bahkan wanita ini merelakan seluruh hartanya untuk kepentingan dakwah, kepentingan seluruh umat.

Ia adalah istri pertama Rasulullah, dan merupakan istri satu-satunya yang mendapatkan keturunan. Ia hidup dan besar di lingkungan suku Quraisy, ia juga terkenal dengan julukan wanita yang suci karena keutamaan akhlak dan sifat terpujinya. Siti Khadijah adalah istri yang penuh cinta, kasih sayang dan kelembutan. Ia adalah orang pertama yang beriman kepada risalah Rasulullah dan menyatakan kesetiaannya menjadi pembela Nabi.

Ketika Rasulullah mendapatkan wahyu pertama kalinya yang disampaikan oleh malaikat Jibril di Gua Hira, beliau pulang menemui Khadijah dengan penuh ketakutan, badan gemetar dan keringat bercucuran. Beliau minta diselimuti oleh Khadijah, maka Khadijah menyelimutinya dengan kasih sayang dan kelembutannya mampu menenangkan Rasulullah.

Bersama Rasulullah, Siti Khadijah turut menanggung kesulitan dan kesedihan atas perlakuan orang-orang Quraisy, tetapi ia selalu menampakkan wajah ceria sehingga menambah kesabaran dan semangat Rasulullah berjuang dalam menyebarkan agama Islam.

Kebijakan, kelembutan dan kebaikan Siti Khadijah senantiasa selalu dalam ingatan Rasulullah bahkan setelah Khadijah wafat Rasulullah pun selalu menyebut dan memujinya dalam setiap kesempatan.

Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Aisya merasa sangat cemburu ketika Rasulullah menyebut-nyebut Khadijah, Aisyah pun berkata: “Engkau selalu menyebut dan mengingat terus wanita itu, padahal Allah telah menggantinya dengan istri yang lebih baik darinya.” Seketika itu Rasulullah marah dan berkata: “Demi Allah tidak ada yang dapat menggantikannya, dialah orang yang pertama kali beriman kepadaku ketika yang lain mengingkariku, dialah yang membenarkanku ketika yang lain mendustakanku, dia memberika seluruh hartanya kepadaku ketika yang lain menahan pemberiannya, dan dari dialah aku mendapatkan keturunan.”

Dialah Khadijah binti Khuwailid, yang Allah pernah menyampaikan penghormatan (salam) kepadanya dan Allah membangunkan untuknya sebuah rumah di surga, sebagaimana yang tertera dalam suatu riwayat:

“Jibril datang kepada Nabi dan berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepada engkau dengan membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Apabila ia datang kepadamu, sampaikanlah salam kepadanya dari Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung dan juga dariku dan kabarkanlah berita gembira kepadanya mengenai sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara di dalamnya tidak ada keributan dan kesusahan.” (HR. Muslim)

4. Fatimah binti Muhammad (puteri kesayangan Rasulullah)

Fatimah adalah simbol wanita yang solehah; anak yang soleh dan taat dihadapan ayahnya; isteri yang setia dan taat di hadapan suaminya serta ibu yang bijaksana di hadapan putera puterinya. Dialah pemuka segala wanita dan juga seorang wanita mithali yang setiap detik kehidupan yang dilaluinya, sewajarnya dijadikan panutan Muslimah.

Ia adalah putrid Rasulullah, istri tercinta Ali bin Abi Thalib. Ia juga putrid kesayangan Rasulullah yang sangan mirip dengan Rasulullah baik rupa maupun akhlaknya. Aisyah pernah mengatakan bahwa Fatimah orang yang paling mirip dengan Rasulullah dalam ucapan maupun pemikirannya. Ia lahir dalam masa-masa kewahyuan Ilahi dan kenabian Rasulullah. Ia tumbuh besar dalam asuhan Rasulullah, dalam rumah mereka yang dipenuhi kalimat-kalimat Allah, ayat suci Al-Quran.

Fatimah memiliki kepribadian yang sangat mulia, wujudnya dipenuhi cinta dan keimanan. Betapa mulia akhlaknya dan Rasulullah sangat menyayanginya. Setelah ditinggal ibundanya (Khadijah) wafat, dialah yang merawat ayahnya dan senantiasa berusaha menggantikan peran ibundanya. Fatimah turut menyertai ayahnya dalam berbagai cobaan dan ujian serta perlakuan kaum musyrikin.

Suatu ketika Rasulullah pulang dengan luka dan kepala yang dilumuri isi perut unta oleh kaum Quraisy, Fatimah dengan hati-hati dan penuh cinta membersihkannya. Ia mengobati luka-luka Rasulullah, dengan airmata yang berlinang. Fatimah sangat mencintai ayahnya, dan oleh karena cinta kasih sayang yang tercurah sedemikian rupa kepada ayahnya, maka Rasulullah memanggilnya dengan julukan Ummu Abiha (Ibu bagi bapaknya). Dan dalam sabdanya, Rasulullah berkata:

“Putriku yang mulia, Fatimah adalah pemimpin perempuan dunia di seluruh zaman dan generasi. Ia adalah bidadari berwajah manusia, setiap kali ia beribadah di mihrab di hadapan Tuhannya, cahaya wujudnya menyinari malaikat. Layaknya bintang geintang yang bersinar menerangi bumi.”
Read More

Filsafat Kho Ping Hoo : Rambut itu tumbuh sendiri di luar kekuasaan manusia yang mengaku memilikinya.

Tidak ada komentar:
Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo adalah penulis cersil yang sangat populer di Indonesia.


“Orang muda yang gagah. Pendapatmu itu mewakili pendapat umum, akan tetapi hendaknya dimengerti benar bahwa pendapat umum bukan merupakan ukuran akan kebenaran dan keadilan kekuasaan Tuhan. Terdapat banyak rahasia tersimpan di balik semua peristiwa yang terjadi. Apapun yang terjadi di dalam kehidupan ini, sudah pasti sesuai dengan kehidupan ini, sudah pasti sesuai dengan kewajaran, tidak terlepas dari Hukum Karma (baca: Hukum Alam/Sunatullah) yang mencerminkan keadilan kekuasaan Tuhan. Mungkin saja nampaknya tidak adil, bahkan ada kalanya suatu peristiwa dianggap janggal dan tidak adil sama sekali oleh kita, namun hal itu hanya membuktikan betapa lemah dan bodohnya kita. Akal kita, batin kita, pikiran kita, sama sekali tidak mampu menjangkau rahasia itu.

Ada seorang bayi begitu terlahir sudah harus menderita, entah karena kemiskinan keluarganya, atau karena cacad badan, atau karena tertimpa bencana alam dan sebagainya. Menurut pendapat akal kita, tentu saja hal itu sama sekali tidak adil! Ada orang yang hidupnya penuh dengan kecurangan dan kejahatan, nampaknya hidup serba mewah, mulia dan senang. Sebaliknya, orang yang kita anggap berbudi mulia, baik dan dermawan, hidupnya serba kekurangan atau menderita karena penyakit yang berat dan lama. Nah, semua itu hanya sekedar bukti bahwa akal pikiran kita tidak akan mampu menguak rahasia kekuasaan Tuhan!”

“Paman, kalau begitu, apa gunanya kita membela kebenaran dan menentang kejahatan kalau hasilnya belum tentu menguntungkan kita?” Suma Lian membantah dengan hati penasaran. Mendengar bantahan keponakannya itu, Suma Ciang Bun tertawa. “Ha-haha, Suma Lian, pertanyaanmu itu mengejutkan dan mengherankan, seolah-olah engkau bukan keturunan keluarga Pulau Es saja! Kalau kita membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan, dengan pamrih hasil yang menguntungkan apakah hal itu dapat disebut perbuatan gagah seorang pendekar? Ketahuilah, lahir dan matinya seorang manusia seutuhnya berada dalam kekuasaan Tuhan yang menentukan”.

Bagaimana mengisi kehidupan, antara kelahiran dan kematian itulah tugas hidup seorang manusia. Dan aku merasa yakin, demi keadilan Tuhan, bahwa kekuasaan yang menentukan itu tentu disesuaikan dengan mutu dan nilai kehidupan yang diisi oleh manusia sendiri. Jadi, tugas kita hanyalah selalu harus menjauhkan segala macam kebencian iri hati, pementingan diri sendiri, dan sebagainya. Sesudah itu, selesailah, karena yang lain-lain berada di tangan Tuhan dan kita harus menyerahkannya dengan penuh keimanan akan kekuasaan Tuhan.”

Tan Sin Hong menundukkan mukanya. Dia dapat merasakan kebenaran ucapan pendekar besar itu. Bagaimanapun juga, manusia adalah mahluk yang lemah sekali. Biarpun kebanyakan manusia merasa dirinya besar dan berkuasa, namun sesungguhnya itu hanyalah kesombongan kosong belaka. Jangankan menguasai hidup matinya, bahkan menguasai sehelai rambut pun tidak! Rambut itu tumbuh sendiri di luar kekuasaan manusia yang mengaku memilikinya. Penyerahan diri ke dalam kekuasaan Tuhanlah satu-satunya jalan tempat manusia berlindung, di samping, tentu saja, segala ikhtiar sekuatnya.

[ Dikutip Dari Cersil: Kisah Si Bangau Putih ]
Read More

Puisi Taufik Ismail : Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu

Tidak ada komentar:

Berikut salinan puisi Taufik Ismail yang digubah pada tahun 1989, saat Israel melakukan agresi militer terhadap rakyat Gaza :
Palestina, Bagaimana Bisa Aku Melupakanmu
Ketika rumah-rumahmu diruntuhkan bulldozer
dengan suara gemuruh menderu, serasa pasir
dan batu bata dinding kamartidurku bertebaran
di pekaranganku, meneteskan peluh merah dan
mengepulkan debu yang berdarah.

Ketika luasan perkebunan jerukmu dan pepohonan
apelmu dilipat-lipat sebesar saputangan lalu di
Tel Aviv dimasukkan dalam file lemari kantor
agraria, serasa kebun kelapa dan pohon mang-
gaku di kawasan khatulistiwa, yang dirampas
mereka.

Ketika kiblat pertama mereka gerek dan keroaki bagai
kelakuan reptilia bawah tanah dan sepatu-
sepatu serdadu menginjaki tumpuan kening
kita semua, serasa runtuh lantai papan surau
tempat aku waktu kecil belajar tajwid Al-Qur’an
40 tahun silam, di bawahnya ada kolam ikan
yang air gunungnya bening kebiru-biruan kini
ditetesi airmataku.

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Ketika anak-anak kecil di Gaza belasan tahun bilangan
umur mereka, menjawab laras baja dengan timpukan batu cuma,
lalu dipatahi pergelangan tangan dan lengannya,
siapakah yang tak menjerit serasa anak-anak kami
Indonesia jua yang dizalimi mereka –
tapi saksikan tulang muda mereka yang patah
akan bertaut dan mengulurkan rantai amat panjangnya,
pembelit leher lawan mereka, penyeret tubuh
si zalim ke neraka, An Naar.

Ketika kusimak puisi-puisi Fadwa Tuqan, Samir Al-
Qassem, Harun Hashim Rashid, Jabra Ibrahim
Jabra, Nizar Qabbani dan seterusnya yang diba-
cakan di Pusat Kesenian Jakarta, jantung kami
semua berdegup dua kali lebih gencar lalu ter-
sayat oleh sembilu bambu deritamu, darah kami
pun memancar ke atas lalu meneteskan guratan
kaligrafi

‘Allahu Akbar!’ dan
‘Bebaskan Palestina!’

Ketika pabrik tak bernama 1000 ton sepekan memproduksi
dusta, menebarkannya ke media cetak dan
elektronika, mengoyaki tenda-tenda pengungsi
di padang pasir belantara, membangkangit reso-
lusi-resolusi majelis terhormat di dunia, mem-
bantai di Shabra dan Shatila, mengintai Yasser
Arafat dan semua pejuang negeri anda, aku pun
berseru pada khatib dan imam shalat Jum’at
sedunia: doakan kolektif dengan kuat seluruh
dan setiap pejuang yang menapak jalanNya,
yang ditembaki dan kini dalam penjara, lalu
dengan kukuh kita bacalah
‘laquwwatta illa bi-Llah!’

Palestina, bagaimana bisa aku melupakanmu
Tanahku jauh, bila diukur kilometer, beribu-ribu
Tapi azan Masjidil Aqsha yang merdu
Serasa terdengar di telingaku.
Read More

Canda dan Kasih Sayang Rasulullah s.a.w. Terhadap Anak

Tidak ada komentar:

"Perlakukanlah gadis kecil sesuai taraf usianya!"
Itulah kata-kata yang diucapkan Ummul Mukminin, Aisyah r.a. Dan benar apa yang diucapkan itu. Kata-kata yang diungkapkan tersebut amat singkat, fasih, dan jelas. Memang anak kecil bisa berpikir, mencerna dan mencurahkan perhatian, namun itu semua tidak sama ukurannya dengan orang dewasa. Pola pikir dan kecenderungan anak berbeda dengan orang dewasa. Karena itu anda Anda tidak boleh menuntut anak untuk serius terus menerus. Anda tidak boleh memberikan beban di atas kemampuan anak, tidak boleh melarang haknya sebagai anak, membatasi kesempatannya untuk bergembira dan bermain.

Berikut ini, beberapa gambaran bagaimana Rasulullah memperlakukan anak-anak dan memberi hak bermain dan bergembira.



Dalam kitab ash-Shahihain (HR.Al-Bukhari dan Muslim) disebutkan sebuah hadis dari Ummul Mukminin, Aisyah r.a. ia berkata, "Anak-anak Habasyah masuk masjid dan bermain-main. Rasulullah s.a.w. menutupiku, sedangkan aku tetap melihat mereka hingga aku usai. Maka hargailah anak wanita kecil yang amat suka bermain!"

 Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Aisyah r.a. ia berkata, "Suatu ketika aku bermain boneka dirumah Nabi s.a.w. Aku memiliki teman-teman yang bermain bersamaku. Ketika Rasulullah s.a.w. masuk, teman-temanku bersembunyi. Namun Rasulullah s.a.w. membiarkan mereka. Dan mereka pun bermain bersamaku.''

HR.Ahmad dari Humaid ibn Anas, ia berkata, "Aku Thalhah mempunyai anak kecil bernama Abu Umair. Rasulullah s.a.w. sering mengajaknya becanda. Ketika Rasulullah s.a.w. melihatnya bersedih (Karena burung yang biasa diajaknya bermain mati). Beliau bertanya "Hai Abu Umair! Apa yang telah dilakukan Nughair? (sebutan untuk burung kecil)."
Maksud Rasulullah s.a.w adalah menghibur Abu Umair yang sedang bersedih dengan bahasa sesuai umur anak itu (Abu Umair), karena burung yang biasa diajak bermain mati.

AL-Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis dari Barra' ibn Azib r.a., ia berkata, "Aku pernah melihat Nabi s.a.w, dan Hasan ibn Ali berada di pundaknya. Nabi s.a.w. berdoa, 'Ya Allah! Sesungguhnya aku mencintainya maka cintailah dia!".

Al-Bukhari meriwayatkan hadis dari Mahmud ibn Rabi r.a., ia berkata. "Wajahku pernah disembur air oleh Nabi s.a.w. Kala itu usiaku lima tahun."
Al-Hafizh ibnu Hajar berpendapat,"Tidak bisa disebut sebagai semburan kecuali jika dilakukan dari jarak jauh." Ia menambahkan,"Tindakan Rasulullah s.a.w. terhadap Mahmud, bisa jadi maksudnya canda, dan bisa jadi ingin memberkahi Mahmud, sebagaimana yang lazim ia lakukan terhadap anak-anak para sahabat."

Hal yang sama juga diriwayatan Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, "Pada suatu siang, Nabi s.a.w, keluar rumah. Beliau tidak menyapaku, aku pun tidak menyapanya. Beliau berjalan hingga sampai di pasar Bani Qiaqa'. Lalu beliau duduk di pelataran rumah Fatimah dan bersabda, "Mana anak-anak?" Fatimah tidak langsung membawa anak-anak keluar. Mungkin sedang dipakaikan baju atau dimandikan. Sesaat kemudian anak itu datang menghampiri Nabi s.a.w. hingga dirangkul dan diciumi. Lalu beliau bersabda, "Ya Allah! Cintailah dia dan cintailah orang yang mencintainya!".

Abu Ya'la meriwayatkan dengan sanad hasan dari Ibnu Mas'ud r.a. "Suatu saat Rasulullah s.a.w. shalat. Hasan dan Husain melompat-lompat di atas punggung beliau. Para sahabat ingin mencegah keduanya. Karena itu, mereka memberi isyarat agar mereka berdua meninggalkan Rasulullah s.a.w. Usai shalat, Rasulullah s.a.w. mendudukan Hasan dan Husain dalam pelukan beliau, seraya bersabda, "Siapa pun yang mencintai, maka cintailah dua anak ini!".

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad dengan sanad sahih dari Zuhair ibn qmar, ia berkata, "Ketika Hasan Ibn Ali berkhutbah setelah terbunuhnya Ali r.a., seseorang yang berasal dari Azd Adam berkata, "Aku pernah melihat Rasulullah s.a.w. mendudukannya dalam pelukan beliau, seraya bersabda, "Barangsiapa mencintaiku maka cintailah dia! Maka hendaklah orang yang hadir menyampaikan pada orang yang tidak hadir!" Andai bukan karena kesungguhan sikap Rasulullah s.a.w., tentu aku tidak memberitahu kalian."

Al-Bukhari meriwayatkan hadis dari Abu Bakar r.a., ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah s.a.w. berkhutbah di atas mimbar, sedang Hasan berada didekatnya, sesekali ia melihat para hadirin dan sesekali melihat Rasulullah s.a.w. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda, "Anakku ini adalah pemimpin. Semoga dengannya Allah mendamaikan dua kubu dari kalangan Muslimin."

Di antara bentuk lain kasih sayang Rasulullah s.a.w. terhadap anak adalah ketika shalat beliau menggendong putrinya, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Qatadah al-Anshari: Rasulullah s.a.w. pernah menggendong putrinya, Zainab binti Rasulullah s.a.w., ketika beliau sedang shalat. Beliau juga pernah menggendong Abu Ash ibn Rabi'ah ibn Abdi Syams. Ketika sujud, beliau meletakkannya. Dan jika bangun dari sujud, beliau menggendongnya kembali."

Di antara bentuk lain dari kasih sayang Rasulullah s.a.w. terhadap anak adalah mempercepat shalat ketika mendengar tangisan anak demi menjaga perasaan ibu, sebagaimana disebutkan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas r.a : Rasulullah s.a.w bercerita kepadanya, "Suatu ketika aku shalat dan ingin memperlama shalat. Tiba-tiba aku mendengar tangisan anak. Aku pun mempercepat shalat karena aku tidak mau memberatkan ibunya."
Read More

Dengan Begitu Cepat Banyak Yang Terjatuh Oleh Buaian Pujian

Tidak ada komentar:

Menapaki tiap tangga untuk mencapai kesuksesan, menjadi terkenal, dan menjadi populer, itu bagi sebagian banyak orang yang melewatinya digapai tidak dengan jalan mudah dan butuh proses waktu yang lama. Ada yang bertahun-tahun bahkan puluhan tahun untuk mencapainya, itupun harus dilewati dengan penuh perjuangan,kerja keras, untuk menghadapi setiap rintangan yang menghadang yang tidak begitu mudah bagi orang kebanyakan. 

Tapi semua bisa hilang hanya dalam satu hari saja hanya karena terbuai oleh pujian. Dalam waktu begitu cepat akan hancur, apa yang sudah dicapai, dibangun selama bertahun-tahun bahkan puluhan tahun itu. 

Sudah banyak contoh kasus dikehidupan sehari-hari yang dilewati, betapa banyak orang sukses, pejabat, artis, dan lainnya, yang terjatuh oleh buaian pujian yang seperti racun yang dengan cepatnya bisa mematikan. Padahal kebanyakan mereka membangun semua itu tidak didapat dengan mudah tapi dengan proses yang begitu panjang dan melelahkan. Ada yang hancur oleh Korupsi, oleh Narkoba, oleh Perjudian, oleh Pergaulan Bebas, dan sebagainya. Yang kesemuanya berawal dari terbuai oleh pujian yang membuat lupa diri, bangga diri (riya,ujub,takabur dll), lupa menapak(merasa diatas terus), dan lupa darimana dia berasal. 

Lalu bagaimana cara mengantisipasi agar tidak mudah terbuai oleh Pujian ? Silahkan baca Sumber Berikut. dibawah ini.

Pujian adalah bentuk penghargaan kita kepada orang lain dengan mengapresiasi karyanya baik dalam bentuk sanjungan, pemberian hadiah, atau perlakuan spesial lainnya. Dalam banyak teori motivasi yang berkembang seperti teori yang dikemukakan Abraham Maslow bahwa memberikan pujian dapat menjadi dorongan positif kepada seorang untuk bekerja lebih keras. Oleh karena itu, penting bagi seorang pemimpin perusahaan memberikan pujian kepada bawahannya untuk meningkatkan produktivitas bawahannya. Tapi benarkah pujian akan selalu dapat memberikan dampak positif bagi seseorang?

Rasulullah adalah seseorang yang paling berhati-hati dalam memberikan pujian. Rasulullah SAW pernah bersabda:

ويحك قطعت عنق صاحبك، (يقوله مراراً)، إن كان أحدكم مادحاً لا محالة، فليقل: أحسِبَ كذا وكذا- إن كان يرى أنه كذلك – وحسيبه الله، ولا يزكي على الله أحداً

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ”’Saya kira si fulan demikian kondisinya.” -Jika dia menganggapnya demikian-. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan  janganlah mensucikan seorang di hadapan Allah.” (HR. Bukhari)

Kehati-hatian Rasulullah dalam memberikan pujian tentunya beralasan, pujian dapat menjadi racun bagi hati seseorang dan menjauhkannya dari keikhlasan. Ketika hati kita mulai gandrung akan pujian, maka setiap amal yang kita lakukan hanya akan menjadi amalan sia-sia, amalan riya’ yang bukannya diniatkan untuk Allah tapi untuk memperoleh pujian orang lain. Shalat yang biasanya dilakukan dalam waktu 5 menit, mendadak menjadi sangat khusyuk dan lama ketika shalat kita dilihat orang lain merupakan contoh sederhana bagaimana riya’ dapat merusak ibadah kita. Dampak negatif dari pujian secara umum ada 2 yaitu menjadikan kita riya’ dan sombong. Riya’ akan membuat ibadah-ibadah kita tertolak dan menghilangkan keberkahannya sedangkan kesombongan akan menjerumuskan kita ke neraka.

Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari bahaya pujian:

  1. 1. Sadar bahwa semua pujian hanyalah milik Allah

Di ayat pertama surat Al Fatihah sudah jelas disebutkan “Segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam”. Maka segala pujian itu selayaknya hanya untuk Allah. Sehingga, ketika kita menerima pujian, maka kita bersegeralah mengingat Allah dan mengembalikan pujian itu kepada Allah.

A: “Anak ibu pintar sekali ya, bisa masuk PTN terkenal!”

Jawaban orang yang sombong

B: “Habis gimana ya, kecerdasan kan memang turun dari orang tuanya”

Jawaban orang yang ikhlas

C: “ Alhamdulillah, Allahlah yang mengkaruniakan kami dengan anak yang cerdas”

Ketika dipuji, Abu Bakr berdo’a,

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka ( Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, no.4876)


  1. 2.Sadar bahwa kita dipuji karena Allah masih berkenan menutupi aib, dosa, kejelekan, dan kekurangan kita

Jika kita sering bermuhasabah, merenungi akan lebih berat mana kebaikan atau dosa yang kita lakukan maka kita akan terhindar dari bahaya pujian. Karena sesungguhnya, orang yang memuji kita itu hanya tahu sedikit dari pribadi kita yang sesungguhnya, Allahlah yang maha tahu aib kita, dosa-dosa kita, kejelekan, dan kekurangan kita. Jika Allah tidak maha baik untuk menutupi aib-aib kita niscaya bukanlah pujian yang akan kita dapatkan tapi malah cercaan dan dijauhi oleh orang lain. Mencoba untuk sering mengulang pertanyaan pada diri sendiri tentang siapa yang menciptakan kita?, Siapa yang menjamin rezeki kita? Siapa yang memberikan kemuliaan?, Siapa sang pemilik surga?, juga akan membantu kita menghindari sikap gila pujian.

  1. 3.Hanya berharap pada pujian Allah

Ketika manusia makin ingin dipuji, makin ingin dihargai, makin ingin dihormati, maka makin ia sering sakit hati. Maka agar kita tak mudah sakit hati, hanyalah berharap pada Tuhan Yang Maha Memberi.

Memuji dengan kadar yang pas dapat menjadi sebuah motivasi yang baik bagi sesorang, namun ketika diberikan secara berlebihan dan tidak sesuai dengan tempatnya pujian dapat menjadi racun bagi hati. Berhati-hati ketika menerima pujian dan segera mengingat kepada Allah adalah perbuatan bijak yang dapat kita lakukan untuk menghindari bahaya pujian.



Read More

Kearifan & Kebijaksanaan sang Al Amin saat Peletakan Hajar Aswad

Tidak ada komentar:
Hadits Israiliyat adalah kisah-kisah yang berasal dari kaum Nasrani atau Yahudi. Dalam hadits ini diceritakan pembangunan Ka’bah untuk pertama kalinya. Menurut riwayat tersebut, nabi yang pertama kali membangun Ka’bah adalah nabi Adam dan diteruskan oleh nabi Syit. Selain bentuknya yang tidak seperti saat ini, Ka’bah hilang karena banjir bandang pada masa nabi Nuh, meski Hajar Aswadnya masih tetap berada di tempat.
Menurut riwayat yang shahih, Ka’bah pertama kali dibangun oleh nabi Ibrahim yang dibantu nabi Ismail atas wahyu Allah. Bukti yang paling jelas adalah adanya maqam Ibrahim. Maqam ini bukan berarti kuburan, tetapi tempat berdirinya nabi Ibrahim. Ketika memulai pembangunan, Ismail diminta mencari batu untuk Ka’bah. Ketika kembali dengan membawa batu, ternyata bersama Ibrahim sudah ada batu yang diantarkan malaikat Jibril.
Robohnya Ka’bah dan Peletakan Kembali Hajar Aswad
Setelah didirikan nabi Ibrahim, Ka’bah roboh beberapa kali. Ketika Ka’bah roboh untuk pertama kalinya karena banjir, kabilah Amaliqah membangunnya kembali. Tatkala roboh untuk yang kedua kalinya, kabilah Jurhum membangunnya kembali. Pada roboh yang ketiga kalinya, kaum Quraisy yang membangunnya. Pada saat itu, Muhammad sudah menjadi pemuda dewasa. Menurut riwayat Abdur Razaq dan Ibnu Ishaq, usia Beliau saat itu 35 tahun.
Di masa Qusai bin Kilab, Hajar Aswad sempat hilang diambil oleh anak-anak Mudhar bin Nizar dan ditanam di sebuah bukit. Qusai adalah orang pertama dari bangsa Quraisy yang mengelola Ka’bah selepas nabi Ibrahim. Di masa Qusai ini, Ka’bah ditinggikan menjadi 25 hasta dan diberi atap. Setelah Hajar Aswad ditemukan, Qusai meletakkannya kembali.
Ketika roboh untuk yang ketiga kali, kabilah-kabilah yang ada bergotong royong memperbaiki Ka’bah. Namun tidak ada yang berani menyentuh Hajar Aswad. Ketika semuanya selesai, mulailah percekcokan mengenai siapa yang berhak memindahkan Hajar Aswad. Suasana semakin memanas setelah Bani Abdud Durar dan Syam membawa baskom berisi darah. Baskom  darah merupakan simbol bahwa mereka akan mengerjakan sesuatu hingga titik darah penghabisan. Suasana genting tersebut berlangsung selama kurang lebih 5 hari.
Imam Ahmad dan beberapa ahli sejarah menuturkan pada saat kaum Quraisy berselisih pendapat tentang siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempat semua, segologan dari mereka berpendapat untuk mencari seorang penengah. Kemudian mereka sepakat bahwa yang berhak menjadi penengah adalah orang yang pertama kali keluar dari salah satu jalan di kota Makkah. Sesaat kemudian, tiba-tiba yang muncul pertama kali adalah Muhammad. Mereka pun lalu berkata, “Lihatlah, kita telah kedatangan orang yang sangat bisa dipercaya (Al-Amin)”.
Mereka menyampaikan kesepakatan yang telah mereka buat kepada Muhammad. Muhammad tidak egois meletakkan hajar aswad sendirian, meskipun beliau berhak dengan kesepakatan yang telah dibuat. Beliau memilih untuk menyatukan kabilah-kabilah yang hampir terpecah tersebut.
Muhammad bangkit dan meletakkan Hajar Aswad di atas sebuah kain panjang. Setelah itu, Beliau memanggil seluruh kepala kabilah untuk bersama-sama mengangkat Hajar Aswad ke tempat semula. Terlihat para kepala kabilah memegang tepi kain tersebut. Kemudian mereka berjalan menuju ke dekat Ka’bah, lalu mereka berhenti. Muhammad kemudian mengambil Hajar Aswad dengan kedua tangannya serta meletakkannya kembali ke tempatnya.
Dari cerita ini, setidaknya ada 2 hikmah yang bisa dipetik, yaitu:
  1. Kepuasan kaum Quraisy terhadap solusi yang diberikan oleh Muhammad untuk menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Gelar Al Amin dari mereka untuk Muhammad, merupakan bukti bahwa perilaku beliau selalu dibimbing Allah. Rekam jejak inilah yang membuat bangsa kaum Quraisy tidak bisa secara terang-terangan menolak kenabian Muhammad.
  2. Peran Muhammad di tengah-tengah penduduk Makkah pada waktu itu sangat beragam. Peran ini meliputi seluruh sisi kehidupan sosial yang ada. Rasulullah selalu terlibat pada berbagai peristiwa penting seperti masalah Hajar Aswad ini, dan sebelumnya perang Fijar serta perjanjian Hilful Fudhul. Peran positif beliau senantiasa dilandasi satu tujuan mulia, yaitu menempatkan yang haq pada tempatnya dan menegakkan nilai-nilai kebenaran serta keadilan.

Read More

Kata Imam Ghazali Ada 6 Pesanan dan 7 macam jalan kecohan, tipuan dan .....

Tidak ada komentar:

Suatu hari Imam al-Ghazali, berkumpul bersama murid-muridnya. Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan untuk dijawab oleh murid-muridnya tersebut.
Pertanyaan pertama, “Apa yang paling DEKAT dengan diri kita di dunia ini?“
Lalu para murid menjawab, “Orang tua, guru, teman, dan kerabatnya.”
Imam al-Ghazali lalu menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar namun yang paling DEKAT dengan kita ternyata adalah “KEMATIAN”. Sebab itu sudah menjadi ketetapan Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pastilah akan mati. Sedangkan segala sesuatu yang sudah pasti akan terjadi pada diri kita, pada hakikatnya sesuatu itu berada dekat sekali dengan diri kita.
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran 185)
Pertanyaan kedua, “Apa yang paling JAUH dari diri kita di dunia ini?”
Lalu para murid menjawab, “Negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang.”
Imam al-Ghazali lalu menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar namun yang lebih tepat, ujarnya, yang paling JAUH dari diri kita adalah “MASA LALU.” Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, dengan teknologi tercanggih yang ada di zaman sekarang pun, kita tetap tidak bisa kembali menuju ke masa lalu.
Pertanyaan ketiga, “Apa yang paling BESAR di dunia ini?”
Lalu para murid menjawab, “Gunung, bumi, dan matahari.”
Imam al-Ghazali lalu menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar namun yang paling BESAR dari yang ada di dunia ini adalah “NAFSU”. Karena kadang kita tidak bisa mengendalikan NAFSU yang besar tersebut, hingga banyak orang yang terjerumus dalam dosa. Dan setiap dosa yang belum ditaubati bisa membawa kita ke neraka.
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. Kedatangan azab Allah kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya dengan cara istidraj.”[1] (QS. Al- a’araf: 179).
Pertanyaan keempat, “Apa yang paling BERAT di dunia ini?”
Lalu para murid menjawab, “Baja, besi, dan gajah.”
Imam al-Ghazali lalu menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar namun yang paling BERAT di dunia ini adalah “MEMEGANG AMANAH”. Allah SWT pernah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung untuk mengelola bumi dan seisinya, namun semuanya enggan karena khawatir akan berkhianat. Namun kini manusia malah berlomba-lomba untuk menjadi pemimpin yang bisa menguasai hajat hidup banyak manusa.
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat [2] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (QS. Al Ahzab 72).
Pertanyaan kelima, “Apa yang paling RINGAN di dunia?”
Lalu para murid menjawab, “Kapas, angin, debu dan dedaunan.”
Imam al-Ghazali lalu menjelaskan bahwa semua jawaban itu benar namun yang paling RINGAN di dunia ini adalah “MENINGGALKAN SHALAT”. Terkadang gara-gara cinta kepada lawan jenis, cinta kepada dunia (kekayaan), urusan keluarga, urusan pekerjaan dan sebab lainnya dengan ringan dan mudahnya kita meninggalkan sholat.
Pertanyaan keenam, “Apakah yang paling TAJAM di dunia?””
Lalu para murid menjawab serentak, “Pedang”
Imam al-Ghazali lalu menjelaskan bahwa jawaban itu benar namun yang lebih TAJAM lagi adalah “LIDAH MANUSIA”. Karena melalui lidahnya, manusia bisa melukai dan menyakiti hati saudara dan tetangganya sendiri. Luka akibat pedang masih bisa kita obati, tapi luka kerena lidah manusia kemana obat akan dicari.
.

Dan menurut Imam Al-Gazali ada 7 macam jalan kecohan, tipuan, serta ajakan syetan terhadap manusia agar meninggalkan ibadah kepada Allah swt, yaitu :

1. Setan melarang manusia agar jangan ta'at kepada Allah. Orang-orang yang dipelihara Allah, akan menolak ajakan itu dan akan berkata : "Aku sangat butuh sekali kepada pahala dari Allah, karena itu aku harus mempunyai bekal dari dunia untuk akhirat yang kekal abadi ".

2. Setan mengajak manusia untuk menunda ta'at. Nanti saja atau kalau sudah tua, dan sebagainya. Orang-orang yang terpelihara akan menolaknya dengan mengatakan : "Ajalku bukan pada tanganku. Jika aku mengundur amal hari ini untuk esok, maka amal hari esok kapan aku kerjakan ? Padahal tiap-tiap hari mempunyai amal tersendiri ".

3. Sewaktu-waktu setan mendorong manusia supaya buru-buru mengerjakan amal baik dengan amat segera seraya berkata : "Ayo cepat-cepat beramal, supaya engkau dapat memburu amal lainnya". Orang-orang selamat tentu menolak dan berkata : "Amal yang sedikit tapi sempurna lebih baik dari pada amal banyak tapi tidak sempurna".

4. Syetan itu lalu menyuruh manusia supaya mengerjakan amal baik dengan sempurna, sebab kalau tidak sempurna nanti dicela oleh orang lain. Orang-orang terpelihara tentu menolaknya dan akan berkata : "Untuk saya, cukup dinilai oleh Allah saja dan tidak ada faedahnya beramal karena manusia".

5. Setelah itu setan menancapkan perasaan dalam hati orang yang beramal dengan mengatakan : "Betapa tingginya derajatmu dapat beramal soleh dan betapa pula cerdikmu dan kesempurnaanmu". Orang-orang yang baik akan menjawab : "Semua keagungan dan kesempurnaan itu kepunyaan Allah, bukan kekuatan atau kekuasaanku. Allahlah yang memberi taufiq kepadaku untuk dapat mengerjakan amal yang Ia ridhoi dan memberikan ganjaran yang besar dengan karuniaNya. Jika sekiranya tanpa karunia Allah, maka apalah harganya amalku ini dibandingkan dengan banyaknya nikmat Allah kepadaku. Di samping dosaku yang banyak pula".

6. Setelah jalan kelima gagal, maka setan mengajukan jalan keenam. Jalan ini lebih hebat dari yang telah disebut tadi, dan tidak akan bisa awas terhadapnya kecuali orang yang cerdik dan hidup pikirannya. Setan itu berkata mendesuskan di hati manusia : "Bersungguh-sungguhlah engkau beramal dengan sirr, jangan diketahui oleh manusia sebab Allah jualah yang akan mendzohirkan amalmu nanti terhadap manusia dan akan mengatakan bahwa engkau hamba Allah yang iklhlas". Setan mencampur baurkan terhadap setiap orang yang beramal dengan amal tipuannya yang halus sekali. Dengan ucapannya itu setan bermaksud untuk memasukkan sebagian dari penyakit riya (ingin dipuji). 

Orang-orang yang terpelihara oleh Allah menolak ajakan setan itu dengan mengatakan : "hai Mal'un (yang dilaknat) tiada henti-hentinya engkau menggodaku untuk merusak amalku dengan rupa-rupa jalan. Dan sekarang engkau berpura-pura seolah-olah akan memperbaiki amalku, padahal maksudmu untuk merusaknya. Aku ini hamba Allah, dan Allah swt yang telah menjadikan aku. Kalau Allah swt berkehendak mendzohirkan amalku atau menyembunyikannya, kemudian aku mulia atau hina, ini adalah urusan Allah. Aku tidak gelisah apakah amalku itu diperlihatkan oleh Allah kepada manusia atau tidak, karena itu bukan urusan manusia".

7. Setelah setan gagal menggoda dengan jalan keenam, maka ia menggoda lagi dengan jalan ketujuh dengan mengakatakan : "Hai manusia tidak perlu engkau menyusahkan dirimu untuk beramal ibadah, karena engkau jika telah ditetapkan oleh Allah pada zaman azali dan dijadikan makhluk yang bahagia, maka tidak akan menjadikan madharat apa-apa bagi engkau untuk meninggalkan amal. Engkau akan tetap menjadi orang yang bahagia. Sebaliknya jika engkau dikehendaki Allah menjadi orang yang celaka, maka tidak ada gunanya lagi engkau beramal dn tetaplah celaka".

Orang-orang yang terpelihara oleh Allah akan menolak godaan ini dengan mengatakan: "Aku ini seorang hamba dan berkewajiban menurut perintah Tuhanku. Tuhan Maha Mengetahui. Menetapkan sekehendakNya. Dan berbuat apa saja yang dikehendakiNya. Amalku tetap akan bermanfaat, walau bagaimanapun keadaanku. Jika aku dijadikan seorang yang berbahagia, aku tetap perlu beribadah untuk menambah pahala. Dan jika aku dijadikan seorang yang celaka, aku tetap harus beramal ibadah, supaya tidak menjadi penyesalan bagi diriku meninggalkan amal itu. 

Jika sekiranya aku dimasukkan ke neraka padahal aku ta'at, maka aku lebih senang dari pada jika aku dimasukkan neraka karena aku maksiat. Tetapi tidak akan demikian keadaannya karena janji Allah pasti terjadi dan firmanNya pasti benar. Allah telah mejanjikan kepada siapa yang beramal ta'at kepadaNya akan diberi ganjaran. Siapa-siapa yang meninggal dunia dalam keadaan beriman dan ta'at kepada Allah tidak akan dimasukkan ke neraka dan pasti akan dimasukan ke Surga. Jadi masuknya seseorang ke Surga bukanlah karena kekuatan amalnya, tetapi karena janji Allah semata yang pasti dan suci ". 

seperti yang telah difirmankan oleh Allah. "Segala puji bagi Allah yang telah memberi kenyataan janjiNya dengan Surga". (Q.S. az-Zumar :74)."

Oleh karena itu sadarlah wahai hamba Allah, semoga Allah memberimu rahmat, sesungguhnya urusan ta'at kepada Allah seperti yang engkau lihat dan dengar, banyak sekali godaan dan tipuan setan untuk menggagalkannya. Qiyaskanlah (analogikan) segala urusan dan tingkah laku kepada keadaan tersebut. Dan bermohonlah pertolongan kepada Allah agar engkau dilindungi dan dipelihara dari kejahatan setan. Karena segala sesuatu itu berada di bawah kekuasaan Allah. Kepada Allah kita mohon taufiq untuk mendapat keridhoanNya.

Tidak ada daya untuk meninggalkan maksiat dan tidak ada kekuatan untuk mengerjakan ta'at, kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Maha Agung ".






Read More
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com