Mata Air itu Jernih dan Bersih > Kultur itu Kearifan dan Kebijaksanaan > Spiritual itu Damai dan Hening >


Latest Posts

Hikmah Dari Peristiwa dipecatnya Khalid bin Walid (Bag.1)

Tidak ada komentar:


Semasa khalifah Umar bin Khattab, Khalid bin Walid mengalami dipecat dua kali. Pertama adalah ketika dia menjabat sebagai panglima perang dan gubernur Syam. Pemecatan tersebut terjadi pada tahun 13 H, tepatnya satu hari setelah pengangkatan Umar bin Al-Khattab sebagai khalifah menggantikan Abu Bakar radiyallahuanhu.

Pemecatan tersebut dilatarbelakangi perbedaan pendapat antara Umar bin Al-Khattab dan Abu Bakar dalam memberi kebebasan bertindak terhadap gubernur dan pegawai. Abu Bakar memberikan kebebasan penuh kepada para gubernur dalam menerapkan kebijaksanaannya. Abu Bakar hanya mensyaratkan kepada mereka agar merealisasikan keadilan secara sempurna baik antara kelompok atau individu.

Dia tidak mempermasalahkan, apakah kendali dalam menerapkan keadilan berada di tangannya atau gubernurnya. Menurutnya seorang gubernur memiliki hak untuk mengurusi wilayahnya tanpa harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan khalifah dalam masalah-masalah yang bukan prinsip. Menurut Abu Bakar, seseorang tak harus dipecat dari jabatannya jika menerapkan kebijakan dalam bidang harta atau lainnya, sepanjang keadilan tetap berjalan.[1]

Sementara Umar bin Al-Khattab pernah memberi masukan kepada Abu Bakar agar menulis surat kepada Khalid bin Walid supaya ia tidak memberikan kambing atau onta tanpa seizinnya. Akan tetapi Khalid bin Walid kemudian membalas surat kepada Abu Bakar yang berisi:

Jika engkau menginginkan supaya saya masih menjabat sebagai panglima perang, maka biarkanlah aku berbuat sesuai kebijaksanaanku. Jika tidak, maka terserah engkau melakukan sesuai kebijaksanaanmu.

Setelah itu Umar Al-Faruq pun mengusulkan kepada Abu Bakar untuk memecat Khalid bin Walid.[2] Akan tetapi Abu Bakar tetap membiarkan Khalid bin Walid menjabat sebagai panglima perang.[3]

Setelah Umar bin Al-Khattab diangkat sebagai khalifah, dia tetap berpandangan bahwa seorang khalifah harus membatasi gubernur dalam menjalankan tugasnya. Seorang gubernur harus melaporkan kepada khalifah segala sesuatu yang terjadi. Khalifah mempertimbangkan laporan tersebut dan kemudian menentukan keputusannya. Seorang gubernur harus menaati semua perintah. Khalifah bertanggung jawab terhadap tugasnya sendiri dan tugas para gubernur.

Oleh karena itu, jika ada gubernur yang tidak melaporkan kebijaksanaannya terhadap khalifah, maka khalifah terpaksa memilih seseorang untuk menggantikan posisi gubernur.

Setelah dibaiat sebagai khalifah, Umar bin Al-Faruq berpidato di depan rakyatnya:

Sesungguhnya Allah mencobaku dengan menjadi pemimpin kalian. Allah juga mencoba kalian untuk taat kepadaku. Dia mentakdirkanku untuk menjadi khalifah setelah sahabatku. Demi Allah, jika aku tidak memahami masalah kalian, maka pasti ada orang yang menggantikan posisiku.

Setiap masalah yang aku hadapi, akan aku jalankan dengan sebaik-baiknya. Jika pegawai menjalankan tugasnya dengan baik, maka aku akan menghormati mereka. Jika sebaliknya, maka aku tidak segan-segan untuk memberikan sanksi kepadanya.[4]

Umar juga berkata:

Bagaimana pendapat kalian, jika aku mengangkat seseorang yang menurutku baik untuk menjadi pemimpin, kemudian aku menyuruhnya untuk berbuat adil, apakah dengan seperti ini aku telah melakukan yang seharusnya aku lakukan?

“Ya, benar,” jawab mereka.

Umar berkata, “Tidak demikian, sampai aku mengetahui pekerjaannya. Apakah dia melakukan seperti yang aku perintahkan atau sebaliknya.[5]

Ketika Umar bin Al-Khattab diangkat sebagai khalifah, dia bermaksud mengharuskan semua pejabatnya agar menerapkan semua kebijaksanaanya. Sebagian pejabat setuju dengan pendapatnya dan sebagian yang lain menolak. Dia antara pejabat yang menolak kebijaksanaannya adalah Khalid bin Walid.[6]

Diriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa setelah Umar Al-Faruq diangkat sebagai khalifah, dia menulis surat kepada Khalid bin Walid. Dalam surat tersebut Umar bin Al-Khattab melarang Khalid bin Walid untuk tidak memberikan kambing atau onta kecuali atas seizinnya. 

Khalid bin Walid kemudian menulis surat kepada Umar Al-Faruq yang berisi, “Jika engkau menginginkan saya tetap menjabat, maka biarkan saya dalam keadaan seperti ini. Jika tidak, maka terserah engkau melakukan sesuatu sesuai dengan kebijaksanaanmu.”

Umar berkata, “Tidaklah aku berada dalam kebenaran jika aku mengusulkan suatu pendapat kepada Abu Bakar dan tidak aku lakukan.” Maka khalifah Umar bin Al-Khattab pun kemudian memecat Khalid bin Walid.[7]

Lebih dahulu, Umar bin Al-Khattab meminta kepada Khalid bin Walid untuk melaksanakan perintahnya. Akan tetapi Khalid bin Walid menolaknya. Bahkan, sebagaimana pada masa Abu Bakar mengirim surat kepadanya, Khalid bin Walid meminta kepada Umar bin Al-Khattab untuk membiarkannya melakukan sesuai kebijaksanaannya. Akan tetapi Umar Al-Faruq menolak ide Khalid bin Walid tersebut. [8]

Umar bin Al-Khattab memecat Khalid bin Walid karena suatu kebijakan yang diterapkan olehnya. Seorang pemimpin negara berhak untuk mengatur pemerintahan. Dan pada dasarnya tanggungjawab urusan pemerintahan berada di pundak kepala negara.

Dan Khalid bin Walid pun menerima pemecatan dirinya dengan hati yang lapang. Dia tetap bersedia berperang di bawah komando, Abu Ubaidah, penggantinya selama enam tahun lamanya. Dan selama itu dia tidak pernah berselisih dengan Abu Ubaidah. Khalid bin Walid juga tidak mengingkari kemuliaan akhlak Abu Ubaidah, dan ia selalu menghormatinya. 

Khalid selalu pergi bersamanya, mengikuti perintahnya, menghormati pendapat-pendapatnya dan selalu mendahulukan keputusannya. Sikap Khalid bin Walid ini menunjukkan atas ketulusan hatinya dalam berjuang. Atas jasanya, pasukan Islam berhasil menaklukkan Damaskus dan Qinsirin. Sikap yang ditunjukkan Khalid setelah pemecatannya menunjukkan atas kemuliaan jiwanya. Dia tetap Khalid bin Walid, pedang Allah, baik sebagai komandan atau anggota pasukan. Bersambung ke (Bag.2)

[1] Shadiq Arjun, Khalid bin Walid, hal. 321-322.
[2] Al-Bidayah An-Nihayah, jilid VII, hal. 115
[3] Tarikh Al-Islami, Jilid XI, hal. 146
[4] Shadiq Arjun, Khalid bin Walid, hal. 331.
[5] Ibid., hal. 332
[6]  Ibid., hal. 332
[7] Al-Bidayah An-Nihayah, jilid VII, hal. 115.
[8] Shadiq Arjun, Khalid bin Walid, hal. 332.
Diringkas dari Prof. DR. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Biografi Umar bin Khattab, Pustaka Al-Kautsar 2013


Read More

Sejarah Lahirnya Kantata

Tidak ada komentar:

AKHIR dekade 1980-an lahir sebuah kelompok musik bernama Kantata Takwa. Grup ini merupakan kumpulan tokoh-tokoh yang memiliki kharisma di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Iwan Fals dan Sawung Jabo, pengarang lagu dan penyanyi berbobot dengan jutaan penggemar; Setiawan Djody, pengusaha sukses sekaligus musisi ternama; WS Rendra, penyair dan dramawan yang berwibawa; Jockie Suryoprayogo, arranger dan pemain keyboard senior; Donny Fatah, pemain bas musik rock yang ulung; dan Innisisri, seorang pemain drum dan perkusi yang kreatif.
Tahun 1990, mereka mengelurkan album perdana bertitel Kantata Takwa. Dari album yang juga menghadirkan permainan gitar Eet Sjahranie dan Raidy Noor, gebukan dram Budhy Haryono serta tiupan saksofon Embong Rahardjo ini, melejit nomor Kesaksian yang sangat ekspresif
Meskipun merupakan grup musik, Kantata mempunyai kekhasan dibanding grup-grup lain. Kantata lebih tepat disebut sebagai sebuah forum komunikasi, diskusi, dan pengejawantahan kreativitas dari sensitivitas sosio-estetik para personilnya. Visi yang kuat akan kondisi sosial budaya menjadikan mereka sebagai wujud representasi baru atas perjalanan panjang serta dinamika kehidupan masyarakat kita.
Bagi Kantata musik adalah sarana untuk mengomunikasikan lirik hasil perjalanan tersebut. Oleh karena itu, Kantata tidak mengikrarkan diri sebagai wakil dari jenis musik tertentu. Hal terpenting adalah meramu musik mana yang paling pas untuk mengiringi lirik masing-masing lagu mereka. Melodi lagu-lagu mereka tidak berniat membuai orang hingga lupa akan maknanya, tetapi cenderung lugas hingga pesan yang dikandung dalam lirik menjadi transparan.
Maka ketika kita mengapresiasi nyanyian Kantata, yang terbentang adalah potret-potret kehidupan, mulai dari yang religius hingga yang tragis. Simak, misalnya, lagu Kesaksian yang menggambarkan berbagai tregedi yang harus dikabarkan atau Orang-orang Kalah yang menggambarkan daya hidup “wong cilik”. Sementara itu, lagu Kantata Takwa sendiri merefleksikan kepasrahan manusia di hadapan Tuhan.
Sukses dengan album perdana yang terjual ratusan ribu keping, Kantata lantas membuat gebrakan di dunia pertunjukan. Malam itu, 23 Juni 1990 di Stadion Utama Senayan Jakarta berkumpul ratusan ribu penikmat musik untuk menikmati konser akbar Kantata. Konser tersebut tercatat sebagai salah satu konser terbesar dalam catatan sejarah musik Indonesia, baik dari segi kuantitas penonton maupun dalam kualitas penyelenggaraan.
Beberapa bulan kemudian, Kantata melakukan konser tur yang tak kalah akbarnya ke berbagai daerah, antara lain konser di Surabaya pada 11-12 Agustus 1990 dan konser di Solo pada 11-12 September 1990.
Setelah sukses dengan album perdana dan serangkaian turnya, Kantata Takwa tak terdengar lagi kabarnya. Para personilnya lebih terfokus pada aktivitas masing-masing. Iwan Fals menggarap album solonya, yakni Cikal, Belum Ada Judul, Hijau, dan Orang Gila. Setiawan Djody juga sibuk menggarap album solo perdananya, Dialog. Sedang-kan Sawung Jabo bersama kelompok Sirkus Barock menggarap album Fatamorgana.
Sebenarnya, beberapa dari personil Kantata tetap berkolaborasi, hanya saja mereka mengibarkan bendera yang berbeda. Iwan Fals, Sawung Jabo, Innisisri dan beberapa musisi lain sempat tergabung dalam kelompok Swami dan Dalbo. Pada 1994, Iwan Fals dan Sabung Jabo bahkan mengelurkan album duet berjudul Anak Wayang.
Indikasi kemunculan kembali Kantata baru terlihat pada awal 1995. Saat itu mereka manggung untuk kalangan terbatas di Hardrock Cafe Jakarta. Tak lama kemu-dian, tanggal 15 Oktober 1995 Kantata kembali menggelar konser akbar di lapangan terbuka di Surakarta. Hasil rekaman pertunjukan yang dijejali sekitar 300.000 penonton itu ditayangkan oleh TPI. Kini, lagu-lagu dari konser tersebut secara bergantian biasanya hadir pula pada acara Panggung Mania di TPI setiap Minggu malam.
Kantata nampaknya memang bertekad untuk kembali menghangatkan jagad musik Indonesia. Terbukti, menjelang akhir 1996 mereka berkumpul di Camping Lawu Resort, Tawangmangu, Solo, Jawa Tengah. Di bumi perkemahan seluas 14 hektar milik setiawan Djody ini Kantata menggarap album kedua.
Mereka yang berkumpul tidak banyak berubah dari album pertama. Mereka adalah Iwan Fals (gitar/harmonika/vokal), S. Djody (gitar/vokal), Sawung Jabo (gitar/timpani/vokal), WS Rendra (lirik), Jockie S. (music director /keyboard/vokal), Innisisri (drum/perkusi), dan Donny Fatah (bas). Sedangkan yang terbilang sebagai pendatang baru adalah Totok Tewel (gitar) dan Doddy Katamsi (vokal).
Maka pada awal 1997 keluarlah album mereka, Kantata Samsara. Seperti kata Setiawan Djody, lahirnya Kantata Samsara berangkat dari keinginan untuk menghidupkan kembali Kantata Takwa. Oleh karena itu, kata Samsara diambil yang dalam bahasa Sanskerta berarti “lahir kembali”.
Secara umum, Kantata Takwa dan Kantata Samsara memiliki kepekaan, daya kritis, dan totalitas daya hidup yang sama. Meskipun demikian, di antara keduanya memiliki tema yang agak berbeda. Kantata Samsara lebih berbicara tentang obsesi dan revitalisasi menyongsong tantangan abad XXI. Dalam konteks ini, Kantata berpihak pada keadilan dan kepastian hukum dengan berpegang pada solidaritas dan kebersama-an. Simak, penggalan lirik lagu Samsara berikut ini: “…Keadilan, kehidupan, ditegakkan / Kebersamaan, kemakmuran, dilautkan / Apakah masih ada angin cinta kebersamaan / gerhana meratap jiwa membara / kesatuan berbangsa, digemakan / Samsara…”
Hal yang juga agak berbeda bahwa lagu-lagu pada album Kantata Samsara terasa lebih kontemplatif serta banyak menggunakan bahasa simbol yang liris. Permenungan yang mendalam dan bahkan menyayat, begitu terasa pada lagu Anak Zaman, Songsonglah, dan Lagu Buat Penyaksi. Sementara itu, ramuan bahasa simbol dapat dinikmati pada lagu Nyanyian Preman, Asmaragama, dan Langgam Lawu. Kantata juga membuat lagu berlirik Inggris, For Green and Peace, sebuah lagu yang merefleksikan harapan akan kesejahteraan dan kedamaian.
Memasuki awal 1998, Kantata kembali hadir dengan mengeluarkan album ketiga, Kantata Takwa Samsara. Sebenarnya album ini merupakan kompilasi dari dua album sebelumnya. Walaupun demikian ada sedikit perbedaan. Untuk lagu Gelisah yang diambil dari album pertama mendapat penambahan aransemen pada intronya dan untuk lagu Kesaksian yang juga diambil dari album pertama ditambah dengan narasi WS Rendra.
Tahun 1999, tanpa didukung Iwan Fals, Kantata kembali melahirkan album berjudul Kantata Revolvere yang diproduksi Kantata Bangsa Foundation.
Mereka kembali bergabung, termasuk Iwan Fals yang beberapa tahun sebelumnya menyatakan keluar, menggelar konser di Parkir Timur Senayan, 30 Agustus 2003. Konser yang diberi title Konser Kantata Takwa: Kesaksian 2003 ini menghadirkan personil asli yang terbentuk di awal Kantata. Secara jumlah penonton yang mencapai 150-an ribu, konser ini bisa dibilang sukses.
Pikiran Rakyat
Read More

Syair Kantata Takwa -

Tidak ada komentar:
Kantata Takwa.


Malam khusuk menelan tahajjudku
Lidah halilintar menjilat batinku
Mentari dan cakrawala kenyataan hidup
Hanya padaMulah kekuasaan kekal

Ingatlah Allah yang menciptakan
Allah tempatku berpegang dan bertawakal
Allah maha tinggi dan maha esa
Allah maha lembut

Lindungilah dari ganas dan serakah
Lindungilah aku dari setan kehidupan
Berikan mentariMu sinar takwa
Ya ampunilah dosa

Gerhana matahari kuasaMu
Bumi langit manusia ciptaanMu
Hari kiamat ada di tanganMu

Aku bersujud








Read More

Sebuah Pengakuan ( Syair Doa Abu Nawas )

Tidak ada komentar:
Al I’tiraf (Sebuah Pengakuan).

Abu Nawas adalah pujangga Arab dan merupakan salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Penyair ulung sekaligus tokoh sufi ini mempunyai nama lengkap Abu Ali Al Hasan bin Hani Al Hakami dan hidup pada zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M). Oleh masyarakat luas Abu Nawas dikenal terutama karena kecerdasan dan kecerdikan dalam melontarkan kata-kata, sehingga banyak lahir anekdot jenaka yang sarat dengan hikmah.

Berikut ini salah satu karya besarnya sebagai seorang penyair: Al-I’tiraaf – Sebuah pengakuan.

ِإِلهِي لََسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاَ# وَلاَ أَقوى عَلَى النّارِ الجَحِيم
Ilaahii lastu lil firdausi ahlaan wa laa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi
Wahai Tuhanku ! Aku bukanlah ahli surga, tapi aku tidak kuat dalam neraka Jahim

فهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذنوبِي # فَإنّكَ غَافِرُ الذنْبِ العَظِيْم
Fa hablii taubatan waghfir zunuubii fa innaka ghaafirudzdzambil ‘azhiimi
Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku, sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

ذنوبِي مِثلُ أَعْدَادٍ الرّمَالِ # فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَاذَاالجَلاَل
Dzunuubii mitslu a’daadir rimaali fa hablii taubatan yaa dzaaljalaali
Dosaku bagaikan bilangan pasir, maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ # وَذنْبِي زَائِدٌ كَيفَ احْتِمَالِي
Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi wa dzambii zaa-idun kaifah timaali
Umurku ini setiap hari berkurang, sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

َإلهي عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذنوبِ وَقَدْ دَعَاك
Ilaahii ‘abdukal ‘aashii ataaka muqirran bidzdzunuubi wa qad da’aaka
Wahai, Tuhanku ! Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu dengan mengakui segala dosa, dan telah memohon kepada Mu

َفَإِنْ تَغْفِرْ فَأنْتَ لِذاك أَهْلٌ # فَإنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاك
Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun wa in tathrud faman narjuu siwaaka
Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak mengampuni. Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

Sumber dari banyak sumber

Haddad Alwi - I'tiroof (with subtitle )






Read More

Antara Abah, Ema, Akhmad Sahal, dengan Pernyataan Gusdur

Tidak ada komentar:

Di Suku Sunda entah dari kapan kata budaya panggilan orangtua Bapak/Ayah/Papah selayaknya orang Indonesia kebanyakannya menjadi Abah, dan Ibu/Bunda/Mamah menjadi Ema. Sementara itu kebanyakan budaya orang Arab ke orang tuanya memanggil Bapak/Ayah/Papah menjadi Abi, Ibu/Bunda/Mamah menjadi Umi.


Abah & Ema Di Sawah.

Lalu kalau dikaitkan dengan pernyataan gusdur "Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab.Bukan untuk 'aku' jadi 'ana', 'sampeyan' jadi 'antum', 'sedulur' jadi 'akhi',... Kita pertahankan milik kita, kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.". Berarti, di Sunda pun sudah dari dulu, dari jaman orang-orang tua terdahulu melakukan apa yang Gusdur sampaikan, yaitu contohnya Abi jadi Abah, Umi jadi Ema.

Sebelumnya biar tidak salah paham dan keliru, disini konteksnya bukan melarang atau tidak boleh sama sekali menggunakan atau mengadopsi budaya Arab, bahkan tidak harus menolak. Tapi melihat dalam konteks budaya, dimana setiap negara itu pasti di anugerahi budaya yang berbeda-beda.

Artinya tak lantas lebih Alim atau lebih Islami hanya karena memakai jubah, surban, atau kosa kata antum, akhi dll, termasuk memanggil panggilan orang tua jadi Abi atau Umi. 

Karena Abu Jahal pun yang terkenal dengan kebenciannya dan menentang sekali terhadap Nabi Muhammad saw, itu sama pakai jubah pakai surban, dan kosa kata arabnya.

Intinya mungkin waktu itu kenapa orang-orang tua terdahulu di suku Sunda, ingin menyampaikan pesan lebih baik jadi diri sendiri dalam hal budaya sebagai identitas tempat dimana kita tinggal. Tapi dalam hal spiritual khususnya dalam hal menyerap ajaran Agama Islam yang dibawa Nabi Adam as sampai Nabi terakhir Nabi Muhammad SAW beserta keluarganya, para Sahabat, Tabi'in, Tabiut Tabi'in, & Alim Ulama, itu masalah keyakinan yang paling dasar dalam hati dengan Illahi, termasuk bagaimana mempelajari Al Qur'an & Hadis yang pakai bahasa Arab.

Untuk lebih jelasnya berikut mengutip artikel tulisan dari Akhmad Sahal seorang intelektual muda NU. 

" Lantas, bagaimana kita memposisikan relasi antara Islam dan Arab? Bagaimana memahami hubungan keduanya?
Di satu sisi, Islam lahir di Arab, Nabi dan kitabnya Arab. Namun, Islam bersifat shalihun li kulli zaman wa makan.Artinya kira-kira adalah “relevan untuk segala zaman dan tempat”. Dalam konteks pernyataan Gusdur tadi, Gusdur tampil dengan idenya yang masyhur: “Pribumisasi Islam,” keislaman yang mengakomodasi dan dapat diserap budaya lokal.

Sayangnya, Pribumisasi Islam seringkali direduksi dengan contoh yang kemudian menjadi kontroversial, misalnya Gusdur mengganti “Assalamualaikum” dengan selamat pagi. Contoh itu mereduksi poin utama Gusdur bahwa universalisme Islam mesti ditampilkan dalam ekspresi-ekspresi kultural setempat.

Gusdur menjelaskannya dlm tulisannya yang lain: “Universalisme dan kosmopolitanisme Islam”. Dalam artikel tersebut, Gusdur menyatakan, Islam mengandung dimensi ajarannya yang universal: jaminan dasar. Sebuah jaminan yang diberikan oleh agama samawi terhadap keselamatan warga baik sebagai individu maupun kelompok.

Jaminan keselamatan tersebut terdiri dari keselamatan fisik, keyakinan/agama, harta, keluarga/keturunan, dan profesi. Jaminan keselamatan terhadap 5 elemen itulah yang disebut sebagai “tujuan syariah”. Dan itu universal, selalu relevan di manapun kapanpun.

Namun, selain dimensi universal, Islam juga tampil sebagai peradaban yang kosmopolit, terbuka terhadap akuluturasi dan adopsi budaya lain. Prinsip-prinsip universal Islam tersebut menurut Gusdur selalu ditampilkan dalam ekspresi sistem dan budaya yang beragam. Hal ini kemudian memperkaya peradaban Islam.

Kemudian, perwujudan prinsip-prinsip universal Islam dalam konteks budaya tertentu itulah yang disebut Gusdur sebagai pribumisasi. Pribumisasi Islam di Indonesia bisa berbeda hasilnya dengan Pribumisasi Islam di Arab karena konteksnya berbeda. Pribumisasi Islam zaman sekarang bisa berbeda dengan Pribumisasi Islam zaman pramodern, lagi-lagi karena konteks sejarahnya berbeda.

Pribumisasi Islam Gusdur muaranya adalah: kesetiaan terhadap Islam, loyalitas terhadap NKRI, dan merawat budaya sendiri harus jalan beriringan. Dalam tingkat tertentu, sikap Gusdur tersebut mendapat penjelasan fiqhiyahnya dari Mbah Sahal Mahfudz dengan fiqh baru-nya.

Kembali ke “Islam dan Budaya Arab”, pernyataan Gusdur di awal adalah penegasan tentang pentingnya penerjemahan universalisme Islam dlm kontkes setempat. Dan itu artinya penegasan tentang Islam Indonesia untuk kaum muslim Indonesia, bukan Islam Arab. Hanya dengan cara itulah justru terbukti Islam itu shalih li kulli zaman wa makan, relevan untuk setiap masa dan tempat."

























Read More

Bag. 1 : Silsilah Prabu Siliwangi (Raden Pamanah Rasa)

Tidak ada komentar:



Berikut Kultwitt singkat dari akun twitter (at)Siliwangi1234

1.Kisah Prabu Siliwangi sangat dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja Pajajaran.

2.Salah satu naskah kuno yang menjelaskan tentang perjalanan Prabu Siliwangi adalah kitab Suwasit.

3.Kitab yg di tulis dngn menggunakan bhs.sunda kuno di dalam selembar kulit Macan putih yg di temukan di desa pajajar Rajagaluh jawa barat

4.Prabu Siliwangi seorang raja besar pilih tanding sakti Mandraguna,Arif & Bijaksana Memerintah Rakyatnya di kerajaan Pakuan Pajajaran

5.Putra Prabu Anggalarang atau Prabu dewa Niskala Raja dari kerajaan Gajah

6.dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh di Ciamis Jawa barat.

7.Pada masa mudanya dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Sejak kecil beliau Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih,

8.seorang juru pelabuhan Muara Jati di kerajaan singapura (seblum bernama kota cirebon)

9.Setelah Raden pemanah Rasa Dewasa & sudah cukup ilmu yg di ajarkan oleh ki gedeng sindangkasih.

10.Beliau kembali ke kerajaan Gajah untuk Mengabdi kepada ayahandanya prabu Angga Larang/dewa Niskala.

11.Setelah itu Raden pemanah Rasa Menikahi Putri ki gedeng sindangkasih yang bernama nyi Ambet kasih.

12.Ketika itu Kerajaan gajah dalam pemerintahan Prabu dewa Niskala atau prabu Angga Larang sedang dlm masa keemasanya.

13.Wilayahnya terbentang Luas dari Sungai Citarum Di karawang yg berbatasan Langsung dengan kerajaan Sunda,

14.smpai sungai cipamali berbatasan Dengan Majapahit.

Berikut Silsilah Prabu Siliwangi sebagai keturunan ke-12 dari Maharaja Adimulia



Sumber Foto : http://peristiwa-id.com/wp-content/uploads/2015/09/prabu-siliwangi.jpg



Read More

Bag. 2 : Kisah Salah Satu Anak Prabu Siliwangi, Raden Kian Santang Mengenal Tauhid

Tidak ada komentar:


Berikut Kultwit dari akun twitter (at)Siliwangi1234

1.Seperti diketahui, Pajajaran merupakan kerajaan hindu terbesar di Jawa Barat. Tidak begitu jelas siapa pendiri dan kapan berdirinya.

2.Namun lokasinya diketahui di Bogor sekarang. Raja-raja yang pernah berkuasa diantaranya,

3.adalah: Prabu Lingga Raja Kencana, Prabu Wastu Kencana, dan Prabu Siliwangi.

4.Di antara raja-raja tersebut yang paling termashyur adalah Prabu Siliwangi.

5.Raja yang terkenal amat bijaksana ini beristrikan putri bernama Dewi Kumalawangi.

6.Dari rahim istrinya ini lahirlah tiga orang putra, yaitu: Raden Walangsungsang, Dewi Rarasantang dan Raden Kiansantang.

7.Raden Kiansantang lahir di Pajajaran tahun 1315. Dia adalah seorang pemuda yang sangat cakap.

8.Tidaklah heran jika pada usianya yang masih muda Kiansantang diangkat menjadi Dalem Bogor kedua.

9.Konon, raden Kiansantang juga sakti mandraguna. Tubuhnya kebal, tak bisa dilukai senjata jenis apapun.

10.Auranya memancarkan wibawa seorang ksatria, dan sorot matanya menggetarkan hati lawan.

11.Diriwayatkan, prabu Kiansantang telah menjelajahi seluruh tanah Pasundan.

12.Tapi, seumur hidupnya dia belum pernah bertemu dengan orang yang mampu melukai tubuhnya. Padahal ia ingin sekali melihat darahnya sendiri

13.Maka pada suatu hari, dia memohon kepada ayahnya agar dicarikan lawan yang hebat.

14.Untuk memenuhi permintaan putranya, Prabu Siliwangi mengumpulkan para ahli nujum.

15.Dia meminta bantuan pada mereka untuk menunjukkan siapa dan dimana orang sakti yang mampu mengalahkan putranya.

16.Kemudian datang seorang kakek yang bisa menunjukkan orang yang selama ini dicari.

17.Menurut kakek tersebut, orang gagah yang bisa mengalahkan Raden Kiansantang ada di tanah suci Mekkah, namanya Sayidina Ali.

18.Singkat cerita berangkatlah Raden Kiansantang ke tanah suci untuk menemui yang namanya Sayidina Ali

19.Demi untuk bertemu dengan Ali, Kiansantang menurut untuk mengambil tongkat ya tertancap di pasir. Oleh seseorang yg sebenarnya dialah Ali

20.Tapi alangkah terkejutnya ia ketika mencoba mencabut tongkat itu ia tak berhasil, bahkan meski ia mengerahkan segala kesaktiannya

21.Begitu mengetahui Kiansantang tak mampu mencabut tongkatnya, maka pria itu pun menghampiri tongkatnya sambil membaca Bismillah

22.tongkat itu dengan mudah bisa dicabut.Kiansantang keheranan melihat orang itu dengan mudahnya mencabut tongkat tersebut

23.“Mantra apa yang kau baca tadi hingga kau begitu mudah mencabut tongkat itu? Bisakah kau mengajarkan mantra itu kepadaku?”

24.“Tidak Bisa, karena kau bukan orang islam.”

25.Kiansantang terbengong ditambah ada yg lewat mengucapkan salam ke org ini "Assalamu’alaikum Sayidina Ali.”

26. Sadar didepannya adalah org yg dicari, Kiansantang ingin mengadu kesaktian musnah seketika. dan akhirnya Masuklah dia Agama Islam

27.Dan setelah be2rapa bulan belajar agama islam ia berniat u kembali ke Pajajaran guna membujuk ayahnya untuk juga ikut memeluk agama islam

28.Singkat cerita , bersyiar lah kian santang dengan agama barunya ditanah Pajajaran
Read More
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com