Mata Air itu Jernih dan Bersih > Kultur itu Kearifan dan Kebijaksanaan > Spiritual itu Damai dan Hening >


Latest Posts

Mengendap Sejenak

Tidak ada komentar:
Mengendap Sejenak Agar Airnya Bisa Dapat di Pakai
Sesudah Lumpurnya Turun dan Tertimbun di Dasar.




Mengendap Sejenak merupakan simbol manusia lemah, dimana kita sebagai manusia yang lemah perlu melakukan intropeksi diri dan mawas diri terhadap apa yang kita lakukan selama kita hidup, baik waktu ini, waktu yang lalu, dan waktu yang akan datang. 

Agar Airnya Bisa Dapat di Pakai merupakan simbol air untuk membersihkan dan mensucikan, dimana air sebagai pembersih jiwa raga dan segala kotoran yang berasal dari Sang Pencipta Yang Maha Suci, dimana semoga kita yang diberi akal dibanding makhluk ciptaan yang lain, agar selalu bisa berpikir mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian yang kita lewati dan akan dilewati , baik waktu ini, waktu yang lalu, dan waktu yang akan datang. 

Sesudah Lumpurnya Turun dan Tertimbun Di Dasar merupakan simbol lumpur yang kotor, dimana manusia itu memiliki sifat kotor yang tidak bisa di hilangkan seperti nafsu dalam diri, segala bentuk keinginan ma'siyat, dan segala sifat tercela seperti diantaranya riya, ujub, takabbur. Hal itu tidak bisa dihilangkan, karena manusia dilahirkan selain diberi akal juga diberi nafsu dalam diri dan godaan yang tiada akan ada hentinya, yaitu dari yang tidak mau sujud ke Nabi Adam as, siapa lagi kalau bukan Iblis dan pasukannya. Nafsu dan godaan tidak akan bisa dihilangkan, tapi sebisa mungkin dikendalikan, diturunkan ketika sedang naik, dan di endapkan agar tertimbun didasar hati, karena kalau tidak lumpur kotoran yang tadi sudah dijelaskan akan terus memperkeruh keadaan, dimanapun dan kapanpun tempat dan kondisinya. 

Jadi yang lebih penting lagi diantara semuanya adalah kita sebagai makhluk ciptaanNya yang amat sangat lemah ini, untuk banyak-banyaklah memohon perlindungan dan ampunan kepada Sang Pencipta. Kita hanya bisa berharap semoga Sang Pencipta memberikan perlindungan dan petunjukNya ke jalan yang diridhoiNya, semoga diberikan rahmatNya, dan semoga diberikan ampunanNya. Amin Ya Rabb.

Tidak ada daya dan kekuatan melainkan hanya karena pertolonganNya.


Read More

Sebuah Kisah : Bertemu Kiai Yang Membumi (Episode 2)

Tidak ada komentar:
Hari Itu dan Pertemuan si Ujang Dengan Pengurut Cimande Yang Menurutnya Beliau Kiai Yang Membumi
(Episode 2).




Karena kondisi si Ujang sudah sadar sekali, akhirnya dia di ijinkan pulang oleh dokter, untuk selanjutnya dibawa kerumah untuk berobat jalan serta untuk di urut Cimande. Istrinya setelah dia tanya hanya luka ringan, terbentur dagunya, dan kakinya agak sedikit terkilir, yang pasti dia bersyukur karena istrinya tidak seberat yang dia alami. 

Sesampainya dirumah, si Ujang disambut dengan kursi roda, bekas almarhum neneknya. Dia sudah tidak memiliki ayah, jadi Ibunya yang menyambutnya dengan wajah sedih tapi bahagia, sedih karena melihat kondisinya, bahagia karena melihat dia masih hidup. Lepas mau turun dari kursi roda, tiba-tiba pandangannya yang tadinya masih jelas melihat ibunya, saudara-saudarnya, teman-temannya dan tetangga-tetangganya menjadi gelap lalu terjatuhlah. Ternyata dia pingsan, sesudah siuman/sadar istrinya yang bilang tadi dia pingsan sebentar. 

Tidak lama setelah itu, datanglah dua orang tua yang si Ujang tidak begitu kenal, tampangnya berkharisma, bicaranya lembut khas Sunda. Mereka diperkenalkan oleh pamannya yang katanya ini gurunya di Cimande, sebut aja yang satu Abah Karta, yang satu Abah Eumpak. Tidak tanggung-tanggung langsung dua dokter urut datang dan mereka ternyata saling kenal bahkan satu guru yang dia dengar dari obrolan mereka. Tidak taunya ada sedikit masalah teknis, jadi karena mungkin agak paniknya saudara-saudara melihat si Ujang, dihubungi lah dua-duanya, dan akhirnya dua-duanya berbarengan datangnya. Namun setelah dikomunikasikan oleh pamannya, dan melihat kondisinya si Ujang, Abah Karta sepakat untuk menyerahkan urusan tangannya yang patah ke Abah Eumpak, dasarnya rumah Abah Eumpak lebih dekat dibandingkan beliau(Abah Karta) yang datang langsung dari Cimande.  

Singkat cerita, si Ujang dipegang(diurut) oleh Abah Eumpak kurang lebih 3 bulan lewat, dengan tahapan tahapannya tentunya. Jadi  yang dia pikir pertama kali, dikiranya yang ngurut bakal langsung mengurut tanpa ampun tangannya yang patah, ternyata tidak, ada tahapannya, jadi tidak seseram yang dia pikir. 

Tahap pertama yang dia ingat yaitu beliau menanyakan dulu kejadiannya seperti apa, terus melihat sebentar tangannya. Kakanya Ujang bilang "ini ada hasil ronsennya bah, mau lihat?" , si Abah bilang "engga perlu, nanti aja liatnya, sekarang sebentar kita runut dulu tulang sama uratnya". Mendengar ucapan si Abah itu, tiba-tiba denyut jantungnya si Ujang langsung berdebar keras saking takutnya, kaka-kakanya dan lainnya yang tidak berani melihat langsung pada keluar rumah, alasannya satu yaitu ngeri melihatnya. Si Ujang diberi gumpalan kain untuk dia gigit apabila terasa sakit, jadi agar lidahnya tidak tergigit. Hanya itungan berapa menit, urutan pertama itu benar-benar luar biasa dahsyatnya takutnya, sampai-sampai dia tidak merasakan apa-apa, soalnya saat itu si Ujang berteriak sekeras-kerasnya sebagai pengalih perhatian menurutnya, dan itu lumayan berhasil, akhirnya tahap pertama sudah kulewati. Selanjutnya tangannya yang kanan diberi papan atas sama bawah, lalu diperban dan diikat secara rapih selayaknya orang patah tulang. Sementara tangan kirinya yang pergelangan tangannya belok ke arah kanan, sudah normal kembali seketika.

Tahapan selanjutnya adalah tahapan ringan, tiap tahapan kurang lebih 30-60 menit, tahapan ringan maksudnya mengurut secara halus dan perlahan tapi tepat ke uratnya, yang berfungsi untuk meluruskan urat-urat yang masih belum normal atau bahasa urutnya urat meringkel.

Dalam tiap tahapan atau pertemuan mengurut, disitulah lambat laun si Ujang mengenal Abah Eumpak. Ternyata setelah dia perhatikan setiap kali ngobrol, beliau sangat dalam sekali dalam beragama, pemahamannya begitu dewasa sekali dalam memaknai ajaran Tauhid.

Beliau menceritakan "sekarang kebanyan di Cimande sudah tidak seperti dulu, sekarang disana sudah seperti rumah sakit patah tulang, cara pembayarannya pun banyak yang di patok segini-segini, sudah tidak seperti dulu" ujar beliau bercerita, sementara beliau mengobati pasien-pasien patah tulang tidak pernah mematok harga atau bahasanya seikhlasnya, dan hasilnya beliau tidak pernah sepi pasiennya.  Menurut beliau selama kita niatnya menolong orang lain yang sedang kesusahan dengan penuh keyakinan niatnya karena Pemilik Alam Semesta Tuhan Yang Maha Esa, maka dengan sendirinya pertolongan Sang Pencipta itu akan datang sendirinya untuk kita, soalnya yang penting dalam hidup itu semua tercukupi saja sudah cukup (hidup dengan kesederhanaan maksud beliau), buktinya anak-anaknya bisa sekolah, setiap hari bisa makan dan lainnya, yang kuncinya kata beliau jangan berlebihan dalam hal apapun.

Pernah suatu waktu beliau menyampaikan yang menurut si Ujang itu cara memandang makna Tauhid secara dalam, dewasa, tapi sederhana,. Beliau berkata "sekarang ini masjid banyak, sebenarnya bukan perkara seberapa banyak tempat ibadah itu dibangun, yang penting itu siapa yang mengisi tempat ibadah itu, dan apa hasil nyata untuk hidup keseharian ketika keluar dari tempat ibadah itu. Percuma kalau dibanyakin tempat ibadah tapi tidak ada yang banyak mengisinya, apalagi kalau hanya untuk saling menyesatkan dan mengkafirkan antar sesama makhluk ciptaan Tuhan. Jadi, untuk apa tempat ibadah yang dipakai itu, ketika keluar dari tempat ibadah hanya untuk merasa diri ini yang paling benar dan diri ini yang paling layak masuk surga yang lain tidak, padahal itu bukan wilayah kita sebagai makhluk yang lemah, itu merupakan wilayah Sang Pencipta Tuhan yang maha Esa. Hakikatnya ibadah itu adalah seberapa besar orang melihat budi pekerti(akhlakul karimah) kita ketika keluar dari tempat ibadah dan seberapa besar manfaat kita untuk orang lain seAgama dan seBangsa, sebisa apa yang kita lakukan untuk kebaikan bersama." begitu kurang lebihnya yang si Ujang Ingat.

Ada satu hal lagi, beliau dalam mengobati pasiennya sedari awal selalu wewanti-wanti atau memperingatkan, bahwa segala kesembuhan itu datangnya dari atas ijin Sang Pencipta bukan dari dirinya. Beliau hanya sebagai perantara mengobati patah tulang, baik dengan mengurut atau menggunakan minyak Cimande.

Itu baru beberapa hal yang si Ujang ingat dari Abah Eumpak, sebenarnya masih banyak lagi ketika setiap tahapan atau pertemuan untuk mengurut tangannya, selalu terjadi diskusi yang dalam dan hangat tentang makna Ketauhidan dan Kehidupan. Tapi beberapa cerita Abah Eumpak diatas tadi, sudah cukup mewakili betapa dalamnya beliau memaknai keyakinan dan kehidupan dengan penuh kedewasaan yang mendalam serta membumi. Makanya si Ujang menyebutnya beliau adalah Kiai , tapi beliau sendiri tidak mau disebut Kiai, beliau lebih menikmati apa yang beliau lakukan sekarang sampai akhir hayatnya.

Kejadian itu sudah lama berlalu, sekarang tangan si Ujang berkat ijin Sang Pencipta, yang patah total sudah normal kembali. Si Ujang berharap agar bisa menjaga silaturahim dengan Abah Eumpak, yang lewat sareatnya diurut Cimande oleh beliau.

Bagi si Ujang ini episode takdir kehidupan yang syarat sekali makna hikmah yang bisa diambil olehnya, baginya ini garisan kehidupan yang sudah diberikan Tuhan Yang Maha Esa, yang pernah dilewatinya. Harapannya semoga Sang Pencipta memberikan semuanya perlindungan, rahmat dan ampunanNya sampai ajal akan menjemput semuanya satu persatu termasuk dirinya.   
   
Read More

Sebuah Kisah : Hari Itu (Episode 1)

Tidak ada komentar:
Hari Itu dan Pertemuan si Ujang Dengan Pengurut Cimande Yang Menurutnya Beliau Kiai Yang Membumi
(Episode 1).




Setiap orang pasti pernah mengalami musibah, termasuk salah satunya kisah si Ujang berikut. Hari itu yang si Ujang tahu hari Jum'at jam 8.00 wib lewat sedikit, tanggal 31 Agustus 2 tahun yang lalu klo ga salah. Si Ujang menabrak sebuah mobil pikup dengan begitu keras disuatu jalan. Dia tidak begitu ingat kejadian sebenarnya, yang pasti yang dia ingat mobil itu belok ke kanan dengan tiba-tiba, dimana dia yang berada dibelakangnya dengan Istrinya sudah tidak bisa lagi menghindari belokan mobil yang begitu mendadak itu. 

Teriakan Tuhan Maha Besar dalam agamanya AllahuAkbar yang masih terngiang dan teringat saat menabrak keras mobil itu dengan refleknya. Selebihnya dia tidak begitu ingat benar, dalam pandangannya yang diantara sadar tidak sadar dia merasa sedang ditengah jalan tergeletak. Dia sudah tidak memikirkan apa-apa selain banyak mengingat sang Pencipta, segala macam dzikir dia sebutkan, karena saat itu dia berpikir dalam hati mungkin sudah waktunya dia dipanggil oleh Sang Pencipta. 

Saat itu diantara sadar dan tidak sadar, si Ujang yang merasa tergeletak dijalan merasakan sekali betapa sulitnya bernapas, sesak sekali dadanya, sementara tubuhnya yang lain sudah tidak merasakan apapun, lemas sekali kaki dan tangannya. Lalu tidak lama terdengar suara istrinya menyebut-nyebut namanya sambil menyebut-nyebut nama Tuhan Sang Pencipta. Dalam hati si Ujang mengucap syukur sekali istrinya ternyata sudah sadar, dan tidak apa-apa, tinggal dia yang tidak berdaya dengan badannya sendiri yang lemas luar biasa dan sesak sekali napasnya.

Selepas itu si Ujang mengalami pergolakan batin dalam hati, satu sisi dia merasa harus ikhlas seandainya ini sudah waktunya dia hidup didunia, tapi disisi lain dia ketakutan sekali memikirkan istrinya, anak-anaknya, ibunya, keluarganya, dosa-dosanya dan lainnya, kalau seandainya itu waktunya dia meninggalkan mereka. Ditengah saat dia sedang berada antara sadar dan tidak sadar. Yang dia rasakan selanjutnya matanya berkunang-kunang, dia merasakan ada banyak orang yang melihat dan berusaha membantu mengangkat badannya yang tergeletak ditengah jalan untuk dipinggirkan dan dinaikkan ke dalam mobil untuk dibawa kerumah sakit terdekat. 

Si Ujang tidak begitu ingat apa selanjutnya yang terjadi, yang dia ingat saat itu dia sudah sadar dan berada disebuah rumah sakit, saat dia mau menggerakkan tangannya, ternyata begitu sakit perihnya yang dia rasakan, dia melihat kedua tangannya bengkok/patah dalam keadaan sadar, dan kakinya tidak bisa digerakkan karena begitu lemasnya sementara dadanya sangat sakit sekali setiap mau bernapas. Dia sepintas melihat istrinya yang sedang mengurus administrasi dan menelpon saudaranya dan lainnya mengabari kalau mereka mengalami kecelakaan.

Selang waktu berlalu, dia melihat kaka-kakanya datang, saat dia mau dibawa keruangan untuk di foto ronsen. Untuk memastikan melihat kondisi tulang dadanya, tulang tangannya, tulang kakinya, dan yang lainnya yang dia tidak paham dalam dunia medis.  

Singkatnya, hasil foto ronsen keluar, dia di informasikan langsung oleh dokternya, kalau kondisinya yang mengalami kecelakaan keras tersebut masih untung masih bisa selamat atau dalam keadaan hidup, tidak ada luka dalam dan luka bagian kepala terutama, tulang dadanya tidak ada yang patah, tangan kiri pergelangannya pindah ke arah kanan, sementara tangan kanannya patah total terbelah tulang dalamnya, kaki yang kanan dan kiri masih untung tidak ada yang patah, tapi paha kaki kirinya ada luka yang lumayan dalam dengan robekan lebar bebrapa centi , tapi sudah dijahit oleh dokternya. 

Melihat kondisinya yang lemah, dokter menyarankan kekeluarganya untuk segera dilakukan operasi untuk tulang yang patah. Tapi saat itu keputusan keluarganya berbeda, keluarganya lebih memilih untuk pengobatan tradisional yaitu Urut Cimande ke ahlinya. Karena keluarganya melihat kondisinya saat itu sudah dalam keadaan sadar sakali. Dan keluarga besarnya memang sudah sangat pengalaman untuk urusan patah tulang pasti dibawa urut Cimande karena banyak yang kenal dengan guru-guru di Cimande sana dan banyak yang menjadi muridnya. 

Hari itu memang hari paling bersejarah dalam kehidupan si Ujang, seumur dia hidup mendekati kepala tiga ini, dia baru mengalami hal seperti ini, banyak pelajaran yang bisa diambil olehnya. Terutama pelajaran yang membuat nyali ciut, yaitu harus dibawa urut Cimande pula, bukannya apa-apa, sepengetahuannya saat itu Cimande itu pengurutnya tidak ada ampun dalam urusan patah tulang, meski kebanyakan hasil akhirnya banyak yang sembuh kembali.

Bersambung ke (Episode 2)






Read More

Sebuah Kisah : ( Episode 2 ) Jelang Kematian dan Sesudah Kematian si Didi

Tidak ada komentar:
Orang Yang Disebut Gila Itu
Memberi si Ujang Pelajaran Yang Mahal
(Episode 2 : Jelang Kematian dan Sesudah Kematian si Didi).




Hari itu si Ujang lupa tepatnya kapan, si Didi yang disebut warga sekitar sebagai orang gila, jatuh sakit. Sekilas si Ujang melihat dia lewat, seperti biasa harum bau badannya yang sangat menyengat karena jarang mandi dan kantong plastik besar yang berisi uang menjadi khasnya. Tapi ada yang tidak biasa dari yang si Ujang lihat, dia(Didi) terlihat amat kurus dari biasanya.

Usut punya usut si Ujang iseng tanya sama warga sekitar, dan mendapat informasi si Didi sedang sakit. Waktupun berlalu, tersiar kabar sakitnya si Didi semakin parah, sampai dia sudah tidak ada tenaga lagi untuk bangun ditempat halaman rumah kosong yang biasa dia gunakan untuk tidur dan istirahat. Keluarga yang dekat yang masih ada dari warga sekitar, yang tadinya acuh tak acuh, akhirnya mendatangi tempat dia berada, membawa makanan, minuman dan obat seperlunya.

Si Ujangpun akhirnya penasaran ingin melihat langsung kondisi sebenarnya si Didi seperti apa dari jarak jauh, soalnya belum lama si Ujang melihat dia masih bisa berjalan meski dengan badan yang sangat kurus. Saat melihat sungguh betapa gemetar hati ini, kasihan melihat si Didi sudah tidak berdaya dengan kondisi badannya yang lemah serta kurus sekali. Memang dia masih sadar dan masih bisa berkomunikasi dengan keluarga terdekatnya, sekedar untuk minta minum dengan sedotan, sementara makanan dan obat-obatan yang dibawa tidak dimakan.

Terbesit hati si Ujang ingin mendekati si Didi lebih dekat lagi, tapi apadaya si Ujang langsung mau muntah dan pergi dari tempat itu, karena tidak tahan dengan bau yang sangat menyengat sekali dari tempat si Didi yang berbau dari buang air kecilnya dan harum badannya si Didi bersatu ditempat itu. 

Kumpulah para tokoh masyarakat Rt,Rw dan lainnya sore harinya untuk berembug/musyawarah tindakan apa yang meski dilakukan untuk si Didi. Sampai akhirnya didapat satu kesepakatan hasil musyawarah bahwa si Didi akan diserahkan ke Dinas Sosial pemerintah yang akan datang ke Esokan harinya. Untuk sementara waktu menunggu petugas Dinas Sosial datang, biar keluarga terdekat yang mengurusnya selama dia sakit.

Si Ujang saat itu sesudah ikut berembug dan mendengarkan ada rasa kasihan dan bertanya dalam hati "kenapa tidak dirawat saja oleh keluarganya yang masih ada di bawa kerumahnya!!" , pertanyaan itupun berlalu dengan perasaan tak menentu. Si Ujang pun pergi dengan urusan aktifitasnya sorenya, karena pikir si Ujang ada keluarganya yang mengurus. Sampai akhirnya sebelum waktu Isya, saat si Ujang mau jalan beribadah, dia dimintai pertolongan oleh tetangga yang rumahnya dekat rumah kosong yang ditempati si Didi untuk melihat kondisi si Didi saat itu yang sepenglihatan tetangga itu, si Didi badannya sudah kaku. 

Begitu si Ujang datangi tempat itu, ternyata keluarga yang tadi menungguinya sedang tidak ada karena ibadah magrib. Hanya ada beberapa warga yang melihat tapi tidak ada yang berani mendekati, karena mungkin takut, dan sangat berbau sekali utamanya. Saat itu yang ada dibenaknya si Ujang, dia harus berbuat sesuatu, meski tadi sorenya saat dia masih hidup, dia mau muntah tidak berani mendekati karena baunya yang sangat menyengat kehidung.

Dengan mengucapkan Bismillah, si Ujang sendiri mendekati si Didi dengan menutup hidungku pakai tangan kiri, dan tangan kanannya untuk memeriksa denyut nadinya si Didi yang terbujur kaku, dari situ dia menyimpulkan kalau si Didi sudah meninggal dunia. Badannya yang tadi agak tertelungkup dia geletakkan sesuai dengan selayaknya orang meninggal, termasuk tangannya dia posisikan selayaknya shalat. 

Disitu si Ujang minta tolong kewarga yang ada disekitar untuk mengambilkan kain sarung guna menutupi badan si Didi yang sudah meninggal, sekaligus tolong kasih tau keluarga dan warga sekitar si Didi sudah meninggal dunia. Selepas kain sarungnya datang, dia potong dua, agar menutupi seluruh badannya si Didi, dan uang si Didi sekantong plastik besar diserahan kekeluarga terdekat untuk dihitung. Sesudah itu si Ujang pamit sebentar untuk menemui istri dan anaknya beberapa waktu.

Sesudah itu si Ujang datangi lagi tempatnya si Didi meninggal tadi, apa yang terjadi ?, ternyata yang dia lihat  si Didi masih dibiarkan di halaman rumah kosong itu, sepertinya pada kebingungan dimulai dari keluarganya, tokoh-tokoh masyarakatnya, dan warga sekitar. Yang si Ujang tangkap dari mereka mau diapakan mayat si Didi yang sangat harumnya sangat menyengat hidung ini !!!. Memperhatikan hal itu tanpa pikir panjang si Ujang langsung mengomandoi tanpa kata, tapi dengan tindakan.

Si Ujang menemui sodaranya yang Ustad untuk bergerak tanpa perlu menunggu perintah, karena saat itu keluarganya sendiri kebingungan harus bagaimana, apalagi yang lain termasuk pak RT setempat. Dengan komando tindakan bukan ucapan, si Ujang dan sodaranya memulai dengan mengangkat mayat si Didi ke kain baru untuk mudah diangkat ke tandu, dia minta tolong agar ada yang membawa tandu khusus mayat dari Masjid ke sini(tempat meninggalnya si Didi). 

Setelah ditunggu agak lama ternyata tandu tak kunjung datang,  ternyata setelah si Ujang perhatikan yang ada masih saling bingung dan saling mengandalkan yang membuat tandu tak kunjung dibawa. Akhirnya si Ujang dan sodaranya mengambil inisiatif untuk mengambil langsung ke Masjid, diperjalanan ke Masjid ada anak muda seperti menyepelekan, bilang "Buat si Didi bukan aa? ( sambil ketawa2 )", mungkin mereka pikir si Didi itu orang gila, jadi tidak perlu diperlakukan selayaknya manusia biasa pada umumnya. Lalu si Ujang menjawab ke pemuda itu "ini untuk kemanusiaan (dengan nada lemah lembut tapi tegas)" . Dia dan saudaranya pun berlalu mengambil tandu buat mayat yang disimpan digudang Masjid. 

Rupanya ada satu tokoh warga yang melihat dan sadar melihat apa yang si Ujang dan saudaranya lakukan. Beliau (Tokoh Itu) tanpa diperintah siapapun langsung mengomandoi urusan tempat kuburan/liang lahat untuk si Didi, bagi-bagi tugas, biar urusan si mayat seperti memandikan, mengkafani dan lainnya diurus si Ujang, sodaranya, dan dari DKM.  

Alhamdulillah akhirnya dengan sendirinya semua bergerak tanpa diperintah, ibu-ibunya bergerak menyiapkan masker, kain kafan , sabun cuci dan lainnya untuk keperluan yang memandikan dan simayat, bahkan anak-anak muda yang menyepelekan tadi bergerak menyiapkan tempat pemandiannya si mayat, warga lainnya menyiapkan lampunya, listriknya, airnya untuk pemandian simayat, bahkan sampai si Ujang dan saudaranya selesai memandikan dan mengkafani si mayat, anak-anak muda mencuci dengan bersih tempat halaman rumah kosong yang tadinya ditempati almarhum menjadi bersih kembali dan wangi sekali, sampai tempat mandi simayat pun dibersihkan.

Sampai akhirnya simayat siap-siap untuk dishalatkan dan selanjutnya dikuburkan selayaknya manusia ciptaan Sang Pencipta. Dalam diri si Ujang saat itu tidak terbesit apa-apa, tidak ingin apa-apa, apalagi ingin di puji atas apa yang dia lakukan, karena saat itu yang terlintas hanya bagaimanapun si mayat meski dia orang gila dan harum badannya menyengat dihidung, layak diperlakukan sama dengan makhluk ciptaanNya yang lain dan harus segera di urus mayatnya. Kalaupun misalnya tidak segera di urus jenasahnya, dengan sendirinya dalam pikir si Ujang akan menimbulkan efek yang lainnya ke warga sekitar. Makanya si mayat harus segera di urus sebelum menimbulkan efek yang lain dan untuk kebaikan bersama utamanya.

Si Didi pun sudah dikebumikan dengan penuh khidmat selayaknya orang biasa meninggal, yang mengantar jenasahnya pun lumayan banyak, meski malam hari. Semua pada akhirnya melakukan dengan penuh ketulusan, demi kemanusiaan, dan demi kebaikan bersama. 

Itulah sepenggal kisah yang pernah si Ujang alami sendiri, semoga kita yang masih hidup dapat memetik sebuah pelajaran mahal dari Almarhum Didi, terlepas dia itu mendapat cap sebagai orang gila di kampung. Dari dia mandiri selama hidup untuk urusan perut, sampai dia meninggal dunia pun dia tidak merepotkan, malah almarhum bisa memberi upah para penggali kubur dan sebagian besar sisanya disedekahkan untuk masjid dan yang membutuhkan, dari uangnya yang masih banyak dikantong plastik besarnya. Yang membuat terenyuh, almarhum tidak menyusahkan keluarganya selama dia masih hidup maupun sesudah almarhum meninggal. 

Sementara si Ujang sendiri sudah dari awal meniatkan pengalaman ini kebentuk tulisan bukan untuk memamerkan apa yang telah dia lakukan, tapi di niatkan untuk Sang Pencipta agar memberikan rahmatNya, dan agar bisa diambil hikmahnya oleh semuanya terutama yang baca kisah ini.. 

Semoga si Didi saat dia masih normal hidupnya, ada cahaya iman kepada Sang Pencipta yang menciptakan dia, yang semoga dapat menolongnya disana. 





Read More

Sebuah Kisah : ( Episode 1 ) Kehidupan si Didi Orang Gila Itu

Tidak ada komentar:
Orang Yang Disebut Gila Itu
Memberi si Ujang Pelajaran Yang Mahal 
(episode 1 : Kehidupan si Didi).




Ini adalah pengalaman pribadi si Ujang, sebelumnya dari awal si Ujang niatkan dalam hati tidak ada maksud memamerkan kebaikan dari pengalaman yang dia akan bagi ini. Pengalaman ini ingin di bagikan tidak lain semoga ada pelajaran nilai yang luhur yang bisa diambil oleh siapapun terutama pembaca blog ini.

Sebut saja nama orang gila itu Didi, yaa dia disebut orang gila oleh masyarakat kampung sekitar karena tiap hari penampilannya dekil dan kumal, hanya pakai celana jeans yang lusuh, sementara bajunya yang lusuh juga tidak pernah dipakai, sehingga membuat menyeruak harum badannya yang tidak pernah mandi tiap kali dia lewat.

Didi orang gila itu ternyata mempunyai perbedaan dan keunikan dengan orang gila kebanyakan, biasanya orang gila kebanyakan itu benar-benar lupa diri siapa dirinya alias hilang ingatan, tidak tahu namanya siapa, keluarganya siapa, apalagi mata uang rupiah. Kebiasaannya suka mengamuk tidak terkontrol, makan semaunya yang dia temui, mau ditempat sampah ataupun makanan bekas yang ditemukan, yang intinya sangat meresahkan masyarakat sekitarnya. 

Didi itu sangat berbeda dan unik dibanding orang gila yang tadi kebanyakan disebut diatas. Didi meskipun tampilannya dekil, kumal, badan berbau selayaknya orang gila. Tapi dia kalau urusan ingatan kadang-kadang masih ingat siapa namanya, siapa keluarganya, siapa teman-temannya dahulu dikampung tersebut. Untuk urusan perut, dia termasuk tipe berdikari(berdiri diatas kaki sendiri) alias mandiri, sangat pantang meminta-minta, disinilah keunikannya. 

Dia itu bekerja dan usaha untuk urusan perut bahkan bisa dibilang sukses untuk ukuran orang gila, karena dia berhasil mengumpulkan uang yang lumayan banyak. Percaya atau tidak tapi ini adalah benar kisah nyata yang si Ujang saksikan sendiri. Dia bekerja dengan menyapu halaman-halaman rumah warga, lalu sampahnya dikumpulkan kepelastik lalu dibuang ketempat pembuangan sampah, dari situ dia dapat upah(uang) terimakasih dari warga karena sudah membantu membuang sampah.

Sementara itu dia juga sosok pengusaha atau bahasa kerennya Entrepreneur yang arti sederhananya berwirausaha mandiri/sendiri untuk hidup dan martabat diri. Dia(Didi) mengumpulkan jatuhan bekas daun pohon kelapa, lalu dengan telaten dia gunakan silet dirubah menjadi sapu lidi. Luar biasa kan pemikiran si Didi, bahkan warga sekitar yang hidupnya normalpun tidak bisa berbuat sedemikian cerdas seperti si Didi. 

Dari sapu lidi yang sudah diikat dengan rapih dia jual kewarga yang membutuhkan. Disitulah dia bisa menghidupi dirinya sendiri dengan tanpa merepotkan warga sekitar dan keluarga yang membuangnya karena tidak mau mengakuinya . Bahkan pelan-pelan dari uang itu dia bisa mengumpulkan uang yang lumayan banyak disimpan dalam kantong pelastik/kresek yang besar. 

Suatu waktu, ternyata ada saja oknum manusia normal warga sekitar, yang otak dan perilakunya melebihi si Didi yang disebut orang gila itu. Gimana engga disebut lebih gila dari si Didi, mereka waras tapi mencuri uangnya si Didi yang dikumpulkan secara perlahan-lahan dan mandiri. Gila kan ? Engga waras kan ? Melebihi si Didi bahkan melebihi orang gila kebanyakkan sekalipun. Untung suatu waktu para pencuri ini yang merupakan oknum warga sekitar tertangkap basah dengan barang bukti uang jutaan rupiah dengan kantong keresek punya si Didi. Meski akhirnya para pelaku kena hukum sosial yang sangat berat dari warga sekitar. 

Tapi si Didi bukanlah tipe orang gila yang pantang menyerah dan putus asa, walaupun dia sangat marah dan mengamuk sekali saat uangnya hilang. Menurut si Ujang itu wajar, jangankan dia yang disebut orang gila, kita saja yang hidup normal pasti akan marah sejenak kalau hasil jerih payah kita dicuri orang. Tapi si Didi adalah pejuang Entrepreneur sejati, meski uangnya berkali-kali dicuri, dia dengan tekun mengumpulkan kembali uangnya dengan usaha mandirinya.  

Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, uang yang sudah dikumpulkan Didi, dia simpan dengan sangat hati-hati, sangat erat sekali talinya, dan sangat aman disimpan oleh si Didi. Sampai suatu waktu dia jatuh sakit, dan ajal menjemputnya di halaman rumah kosong yang biasa dia jadikan tempat tidur.

Bersambung ke Episode 2 ( Jelang Kematian & Sesudah Kematian si Didi ) 
Read More

Pantulan Cermin

Tidak ada komentar:
Pantulan Cermin.




Cermin adalah permukaan yang licin dan dapat menciptakan pantulan bayangan benda dengan sempurna. Itulah definisi cermin, cermin merupakan simbol kesempurnaan yang paling sempurna dari pantulan yang diciptakan. Apapun benda yang mati, ataupun makhluk yang hidup, apabila terpantul cermin maka akan tercipta bayangan sempurna tanpa ada satu kekurang apapun dari yang dipantulkan atau dicerminkan.

Kita sebagai makhluk hidup apabila bercermin, apapun pakaian yang kita pakai, mau yang mahal harganya, mau yang murah sekalipun, cermin akan memantulkan apa adanya pakaian yang kita pakai.

Cermin tidak melihat siapa kita, apa kita dari golongan ningrat ataupun golongan rakyat biasa, apa kita dengan ke glamorannya ataupun dengan apa adanya, apa kita dengan pendidikan tingginya ataupun dengan pendidikan yang sd saja tidak lulus, apa kita dengan banyak ilmunya ataupun dengan yang tidak banyak ilmunya, termasuk apa kita karena ke pintarannya ataupun karena kita kebodohannya.

Cermin satu-satunya benda yang paling jujur dan apa adanya, cermin dengan sendirinya akan memantulkan apapun yang dipantulkannya tanpa satu kekurang apapun sesuai dengan apa yang kita cerminkan atau pantulkan dengan sempurna.

Kita sebagai makhluk hidup di alam semesta ini yang diberikan akal satu-satunya, yang salah satu fungsinya itu adalah untuk bercermin. Karena hanya dengan akal kita bisa melihat diri kita dalam cermin. Apapun yang kita perbuat, sebebas apapun yang kita lakukan, tidak akan bisa lepas dari cermin.
  
Jadi kalau kita berbuat semaunya tanpa memperdulikan orang lain, mementingkan diri sendiri, berbuat semaunya yang penting untuk diri sendiri, mau caranya yang tidak baik sekalipun , terserah gw, apa peduli lu, mulut-mulut gw, uang-uang gw, hidup-hidup gw, dan serba gw ( istilah anak-anak sekarang). Baik !! kalau maunya seperti itu, tapi jangan tersinggung kalau kita sama saja dengan hewan.

Tapi kalau tidak mau disamakan dengan hewan, berarti kita akan melakukan segala sesuatunya dengan pikiran dan tindakan berdasarkan akal yang sehat. Karena apapun yang kita lakukan tidak bisa lepas dari cermin yang dipantulkan , supaya kita berpikir, apa yang kita cerminkan akan berdampak terhadap orang lain atau tidak, merugikan atau tidak. Baik itu yang kita pantulkan atau cerminkan itu hal yang negatif atau yang positif.

Seperti contoh negatif berikut, kita pemakai narkoba atau suka mabuk-mabukan minuman keras, lalu bercerminlah, dari bercermin itu kita sebagai mahluk hidup yang diberikan akal, saat sadar (pemabuk pasti akan ada waktunya pengaruh mabuknya hilang sejenak) pasti akan berpikir dalam hatinya apa dampak ke lingkungan sekitar. Orangtua yang melahirkan kita sedih ga yah ? , Orang terkasih kita hancur ga yah perasaannya melihat kita seperti itu ?, Teman-teman sahabat kita pasti menjauhi kita ga yah kalau kita seperti ini terus ? , dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tidak mungkin tidak terpikirkan oleh kita yang berakal. 

Sebaliknya pun kalau kita melakukan hal yang positif dalam hal apapun, pasti membutuhkan cermin, dari cermin akan memantulkan pikiran sudah sejauh mana berdampak untuk orang lain, untuk lingkungan kita, dan untuk yang menciptakan kita. Meski hal itu sederhana kita lakukan, cermin pasti akan memantulkan yang kita lakukan dan yang kita perbuat.

Karena pantulan cermin itu simbol pantulan kejujuran sempurna.







Read More

(Semoga) Selamat Tahun Baru 2016

Tidak ada komentar:
Selamat tinggal 2015 & (Semoga) Selamat Tahun 2016.




2015 telah kita lewati, siang malam, hujan kemarau, ujian cobaan, syukur kufur, sabar tidak sabar, suka duka, senang sedih, bahagia lara. Kita telah lewati bersama dengan masih diberi kesempatan hidup untuk melangkah ketahun berikutnya yaitu 2016.

(Semoga) selamat tahun baru 2016, kenapa ada kata Semoga dalam tutup kurung ? , semoga berarti juga supaya, mungkin, mudah-mudahan. Yaa itu sebagai tanda pengingat untuk kita semua yang masih diberi kesempatan hidup ditahun baru ini.

Seperti Rambu-Rambu Lalu Lintas ada merah sebagai pengingat berhenti dahulu sejenak, kuning sebagai pengingat untuk berhati-hati saat mau jalan, dan hijau sebagai pengingat silahkan jalan semoga selamat sampai pada tujuan.

Begitulah sama seperti kehidupan ini, kita harus beristirahat sejenak untuk kebugaran jiwa raga, berhenti sejenak dari aktifitas sehari-hari yang kadang menjemukkan, dan meluangkan waktu sejenak untuk orang-orang yang kita cintai dalam kehidupan ini yaitu keluarga, anak dan sahabat dekat.

Begitu juga kita harus berhati-hati ketika ingin melakukan suatu hal, mulailah dengan doa sebelum melakukan aktifitas apapun, harus berhati-hati setiap mau keluar rumah, berhati-hati agar tidak terburu-buru, berhati-hati supaya segala sesuatu tidak dilakukan secara tergesa-gesa, berhati-hati supaya tidak berlebihan dalam hal apapun.

Begitu juga ketika sudah dijalan haruslah fokus ketujuan yang ingin di capai, karena dijalan yang ingin kita tuju tidak semua jalannya lurus, pasti ada belok-beloknya, tidak semua jalannya bagus seperti keinginan semua kita, pasti ada lobang-lobangnya.

Sabarlah selama dalam perjalanan apabila ada yang ingin menganggu perjalanan kita, memprovokasi, dan melakukan sesuatu yang tidak kita duga sebelum melakukan perjalanan. Karena semua itu lumrah terjadi pasti ada saja dalam hidup ini perbedaan, yang tidak suka, yang sinis, dan lainnya, karena ada warna didalam hitam putihnya kehidupan. 

Selalu berusaha bersyukur dengan karunia yang sudah diberikan Tuhan apapun itu kondisinya, lihatlah selalu nasib orang dibawah kita, agar kita selalu di ingatkan klo kita mempunyai banyak karunia nikmat yang sudah diberi, contohnya saat kita pakai kendaraan mobil, bersyukurlah kita tidak pakai motor, saat kita pakai motor bersyukurlah kita tidak pakai sepeda, saat kita pakai sepeda bersyukurlah kita tidak jalan kaki, saat kita jalan kaki bersyukurlah kita masih diberi kaki, saat kita tidak diberi kaki bersyukurlah kita masih diberi kehidupan untuk bisa melakukan kebaikan sekecil apapun, beribadah dan lainnya, karena pasti apapun kebaikan kecil yang kita lakukan akan bernilai dimata Tuhan sebelum kita tidak diberi kehidupan lagi. 

Jadi Semoga di tahun baru 2016 ini kita selamat dalam hal apapun, selamat untuk diri sendiri, keluarga, anak, lingkungan sekitar dan berbangsa bernegara yang cakupannya lebih luas lagi. Lakukan segala sesuatu kebaikan dari yang terkecil dahulu, dari diri kita sendiri dahulu, lingkungan keluarga kita dahulu, yang secara langsung tidak langsung akan berdampak besar, selagi kita masih diberi kehidupan oleh Tuhan.




Read More
luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.comnya.com tipscantiknya.com